Aset Industri Pembiayaan Diprediksi Hanya Tumbuh 7% Tahun Ini

Aset industri pembiayaan diproyeksi hanya tumbuh 7% hingga akhir tahun ini, di bawah prediksi awal yang mencapai 8%.
Dika Irawan | 02 November 2018 15:34 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Aset industri pembiayaan diproyeksi hanya tumbuh 7% hingga akhir tahun ini, di bawah prediksi awal yang mencapai 8%.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno ketika mengomentari proyeksi pertumbuhan industri pembiayaan pada akhir 2018.

Menurutnya, koreksi itu muncul karena persoalan-persoalan yang menimpa perusahaan multifinance pada tahun ini. Misalnya, kasus yang membelit Arjuna Finance pada awal tahun dan SNP Finance baru-baru ini.  

“Pertengahan tahun dikejutkan kasus SNP [Finance],” ujar Suwandi kepada Bisnis, Jumat (2/11/2018).

Kasus-kasus tersebut pun membuat perbankan ragu dan kian memperketat pendanaan mereka ke perusahaan-perusahaan pembiayaan. Kondisi ini kemudian sejumlah multifinance, terutama yang kecil, mengalami hambatan pendanaan.

“Boleh dikatakan kering. Memang tidak semua. Ada beberapa,” lanjutnya.

Agar kasus-kasus serupa tidak terulang, asosiasi menyiapkan sistem asset registry untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap multifinance.

Melalui sistem itu, aset jaminan perusahaan pembiayaan akan diverifikasi, sehingga perbankan mengetahui penggunaan jaminan tersebut. Dengan demikian, multiple financing dapat dicegah.

Asset registry seperti biro kredit, tetapi tidak berikan informasi nama nasabah. Hanya memberikan informasi kepada perbankan,” terang Suwandi.

Sampai September 2018, aset industri mutifinance tercatat masih positif, dengan pertumbuhan 9,2% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp511,47 triliun dari sebelumnya Rp468,11 triliun.

Sementara itu, industri pembiayaan membukukan aset senilai Rp477.16 triliun  sepanjang tahun lalu atau meningkat 7,2% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp442,76 triliun. 

Tag : multifinance
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top