Fintech Lending WeLab Hong Kong Tunda Rencana IPO

WeLab Holdings Ltd., sebuah perusahaan fintech lending asal Hong Kong menunda rencana IPO senilai US$500 juta akibat volatilitas pasar.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 31 Desember 2018  |  23:25 WIB
Fintech Lending WeLab Hong Kong Tunda Rencana IPO
Perkembangan industri fintech (financial teknologi) atau teknologi finansi (tekfin) di Indonesia 2016 hingga 2018. - Bisnis/Ilham Nesaba

Bisnis.com, JAKARTA — WeLab Holdings Ltd., sebuah perusahaan fintech lending asal Hong Kong menunda rencana IPO senilai US$500 juta akibat volatilitas pasar.

Dikutip dari Bloomberg, Senin (31/12), WeLab diketahui telah mendaftarkan diri sejak Juli 2018. Penyedia layanan pinjaman online ini meminta bank untuk menunda persiapan dengan alasan volatilitas pasar yang tengah terjadi saat ini, kata sejumlah sumber yang meminta untuk tidak diidentifikasi karena informasinya bersifat pribadi.

WeLab pada bulan Agustus telah meminta izin perbankan virtual dari Hong Kong Monetary Authority, yang siap untuk mulai memberikan lisensi pada kuartal I/2019.

Hingga kini, WeLab belum memiliki jadwal untuk melanjutkan IPO. Sejumlah opsi lainnya tengah dipertimbangkan seperti putaran pendanaan swasta baru.

Startup yang mendapat dukungan dari Credit Suisse Group AG dan miliarder Li Ka-shing ini memang berencana meningkatkan pendanaan pada awal tahun ini sejak 2017. Namun, rencana ini harus ditunda di tengah aksi selloff di Hong Kong, di mana Hang Seng Index telah turun hampir 15% pada 2018.

Perwakilan WeLab menolak mengomentari penundaan tersebut. Sejumlah perusahaan ternama tercatat menjadi investor WeLab, seperti Khazanah Nasional Bhd Malaysia, Sequoia Capital, dan ING Bank NV. WeLab telah memilih Morgan Stanley dan JPMorgan Chase & Co. sebagai sponsor bersama untuk usulan IPO.

Di Indonesia, WeLab membangun perusahaan patungan dengan PT Sedaya Multi Investama (SMI) -- anak usaha PT Astra International Tbk., ,-- berupa peer-to-peer (P2P) lending PT Astra Welab Digital Arta (Mau Cash) dengan saham 60%. Nilai investasinya ditaksir sekitar US$21 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fintech

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top