Bank Mandiri Sasar Nasabah Kelas Menengah Bawah

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. optimistis geliat konsumsi masyarakat kelas menengah bawah akan mendorong pertumbuhan kredit perseroan pada tahun ini.
Ipak Ayu H Nurcaya | 27 Januari 2019 21:14 WIB
Aktivitas layanan perbankan di Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (2/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. optimistis geliat konsumsi masyarakat kelas menengah bawah akan mendorong pertumbuhan kredit perseroan pada tahun ini. 

Consumer Loan Group Head Bank Mandiri Ignatius Susatyo Wijoyo mengatakan, apabila melihat realitas tersebut, manajemen meyakini bahwa kredit konsumsi akan terbantu dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 10% pada tahun ini.

Menurutnya, perseroan akan mengandalkan pembiayaan konsumsi, khususnya untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB) dengan target pertumbuhan sebesar 15% pada tahun ini. 

Ignatius mengemukakan, apabila target tersebut tercapai, realisasi KPR pada tahun ini akan lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya tumbuh 9%. Pada tahun lalu perseroan masih fokus pada kredit rumah bekas dengan komposisi mencapai 60% sehingga realisasi hanya satu digit.

“Sekarang mau kami ubah fokus pada rumah baru dengan target pembeli pertama yang akan menghuni, bukan sebagai investasi lagi. Jadi, ke depan presentasi mayoritasnya akan berubah, artinya ticket size yang dulunya banyak Rp700 jutaan sekarang akan berganti dengan Rp400 jutaan," katanya kepada Bisnis, belum lama ini. 

Namun, Ignatius menyampaikan, target pembiayaan kendaraan pada tahun ini tidak sebesar KPR. Padahal, pada tahun lalu pertumbuhan KKB mencapai 20% dengan didominasi oleh kendaraan roda empat. 

Menurutnya, menguatnya kelas menengah ke bawah, maka ticket size untuk KKB bakal terkoreksi. Alhasil, fasilitas pembiayaan kendaraan dengan harga Rp140 juta - Rp190 juta menjadi yang paling laris. 

Akan tetapi, sambungnya, sesuai dengan tren KPR dan KKB umumnya masih akan melengkapi. Misalnya, jika pada awal tahun ini produk KPR sepi, maka KKB akan menggeliat. Begitu juga tahun pembuatan kendaraan akan sangat diperhitungkan oleh masyarakat sehingga akan ada diskon besar-besaran.

"Potongannya tidak tanggung-tanggung sampai Rp30 jutaan biasanya. Belum kalau produk kelas atas yang sekarang mulai sulit bahkan sampai Rp100 jutaan," ujar Ignatius. 

Meskipun begitu, lanjutnya, baik untuk KKB maupun KPR perseroan akan menggencarkan sejumlah strategi guna menjaga harapan agar sesuai degan yang diinginkan. Salah satunya, yakni memaksimalkan nasabah payroll Mandiri. 

Ignatius menuturkan, khusus untuk KPR, perseroan akan mulai melakukan mini gathering di akhir bulan ini dengan pengembang dan nasabah payroll Mandiri pada akhir bulan ini. Hal itu merespons periode penerimaan bonus pada awal tahun. 

Ignatius mencatatkan, saat ini perseroan memiliki nasabah payroll sebanyak 3 juta. Adapun yang memiliki besaran di atas Rp5 juta sebanyak 800.000 nasabah. 

Jika dipilah lagi, dengan megambil nasabah yang memiliki rentang usia milenial atau 21- 35 tahun, maka jumlahnya sebanyak 300.000 nasabah.

"Dari sana saja, kalau saya bisa dapat 100.000 nasabah membeli KPR dengan harga Rp400 jutaan maka Rp40 triliun sudah pasti didapat. Namun, semua memang tidak mudah makanya saya akan upayakan agar nasabah semakin dekat dengan produk pengembang dan tertarik untuk mengambil KPR," katanya. 

 

Tag : bank mandiri
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top