Rapor Merah Asuransi Jiwa: Terburuk 5 Tahun Terakhir

Industri asuransi jiwa mencatatkan rapor merah pada 2018 karena hampir seluruh indikator kinerjanya kompak turun secara tahunan atau merupakan yang terburuk dalam 5 tahun terakhir.
Nindya Aldila/Leo Dwi Jatmiko/ Oktaviano D.B. Hana
Nindya Aldila/Leo Dwi Jatmiko/ Oktaviano D.B. Hana - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  12:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Industri asuransi jiwa mencatatkan rapor merah pada 2018 karena hampir seluruh indikator kinerjanya kompak turun secara tahunan atau merupakan yang terburuk dalam 5 tahun terakhir.

Kinerja asuransi jiwa 2018 menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Kamis (28/2/2019) berikut laporannya.

Kinerja industri asuransi jiwa tercermin dari beberapa indikator, a.l. total pendapatan, pendapatan premi—yang terdiri dari premi bisnis baru dan lanjutan—hasil investasi, nilai investasi, serta aset.

Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) yang dihimpun Bisnis, kinerja seluruh indikator tersebut turun, kecuali pendapatan premi lanjutan yang masih tumbuh 1% secara tahunan. (lihat grafis)

Pada 2018, total pendapatan premi industri asuransi jiwa turun sebesar 5% pada 2018 menjadi Rp185,88 triliun. Secara lebih rinci, pendapatan premi bisnis baru tergerus 8,2% menjadi Rp117,38 triliun atau sekitar 63,15% dari total pendapatan premi.

Maryoso Sumaryono, Ketua Bersama AAJI, menjelaskan bahwa total pendapatan premi sampai dengan kuartal IV/2018 tertekan karena penurunan kinerja saluran distribusi bancassurance yang berkontribusi besar terhadap industri.

“Penurunan total premi dipengaruhi oleh menurunnya pendapatan premi dari saluran distribusi bancassurance sebesar 11,2% serta berkontribusi 42,9% dari keseluruhan total pendapatan premi industri asuransi jiwa,” jelasnya, Rabu (27/2/2019).

Kinerja negatif juga terlihat dari sisi hasil investasi yang anjlok 84,5% menjadi Rp7,83 triliun pada akhir 2018 dibandingkan dengan raihan pada tahun sebelumnya sebesar Rp50,54 triliun.

Menurut Maryoso, hal tersebut terjadi akibat penurunan kinerja instrumen di pasar modal, khususnya produk saham dan reksa dana. Kendati menurun secara tahunan, lanjutnya, realisasi hasil investasi mengalami kenaikan secara kuartalan sebesar 509,8%.

“Perlambatan hasil investasi disebabkan penurunan harga pasar untuk saham dan reksa dana sebagai dampak dari perang dagang global,” ujarnya.

Instrumen pasar modal memang masih mendominasi portofolio investasi industri asuransi jiwa. Sekitar 33,87% dana kelolaan sektor ini ditempatkan di reksa dana dan sebesar 32,9% di saham.

Nilai alokasi kedua instrumen itu turun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu masing-masing 6,7% untuk reksa dana dan 1% untuk instrumen saham.

Dia menambahkan, alokasi investasi di surat berharga tumbuh sebesar 2,8% pada tahun lalu dan berkontribusi 14,4% dari total nilai investasi. Adapun, penempatan di deposito turun 16,6% dengan kontribusi mencapai 8,6%.

Secara keseluruhan, jumlah investasi industri asuransi jiwa turun 5% menjadi Rp461,81 triliun. Nilai aset pun turun 4,6% menjadi Rp517,91 triliun. “Namun, kuartal III/2018 aset tetap naik 0,8%. Ini terkait dengan penurunan time deposit.”

Adapun, pada tahun ini pelaku industri asuransi jiwa yakin kinerja akan membaik.

KEMBALI TUMBUH

Maryoso, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Taspen Life, memperkirakan industri asuransi jiwa kembali tumbuh pada tahun ini.

Hal ini sejalan dengan pemulihan sejumlah indikator ekonomi makro pada awal tahun ini. “Kami optimistis tetap tumbuh sekitar 10%—12%. IHSG sudah meningkat sejak akhir 2018,” ujarnya.

Direktur PT Avrist Assurance Anna Leonita menilai, ada perbaikan dari sisi indeks saham selama 2 bulan terakhir. Hal itu terlihat dari pasar saham yang telah mampu memberikan return sekitar 2%.

Begitu pula dari sisi pasar surat utang atau obligasi. Menurutnya, tahun ini harga obligasi akan meningkat dan memberikan imbal hasil positif.

“Arah investasi di pasar modal tahun lalu, kami negative return untuk saham dan obligasi. Saya pikir tahun ini bisa positif, tidak turun. Jadi harganya bisa lebih bagus dari tahun lalu,” katanya.

Mengacu pada laporan keuangan pada kuartal III/2018, portofolio investasi Avrist didominasi oleh reksa dana yakni sekitar 43,39% dari total investasi yang mencapai Rp9,61 triliun. Adapun, porsi obligasi negara mencapai 25,28%, sedangkan saham 18,41%.

Optimisme juga dikemukakan Joos Louwerier, Country Manager & Direktur Utama PT Asuransi Allianz Life Indonesia. Allianz memasang target pertumbuhan premi sebesar dua digit pada 2019.

Salah satu langkah yang ditempuh perseroan adalah merangkul sebanyak mungkin nasabah dengan mengoptimalkan saluran digital. Selain itu, perseroan juga akan meningkatkan kerja sama bisnis digital dengan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Go-Jek Indonesia.

Pihaknya juga telah memiliki risk management untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya risiko tata kelola yang menyebabkan kerugian, seperti yang menimpa salah satu perusahaan asuransi jiwa milik negara pada tahun lalu.

“Saya rasa tidak menjadi tantangan, Allianz sangat kuat dalam hal risk management,” kata Joos. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asuransi jiwa, premi asuransi

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top