Suku Bunga Ditahan 6 Persen Demi Perbaikan Defisit Transaksi Berjalan

Kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang ditahan pada level 6 persen dinilai tepat dalam mengatasi masalah defisit transaksi berjalan yang masih menjadi ancaman di dalam negeri.
Hadijah Alaydrus | 21 Maret 2019 18:18 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan penjelasan pada jumpa pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (21/3/2019). Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang ditahan pada level 6 persen dinilai tepat dalam mengatasi masalah defisit transaksi berjalan yang masih menjadi ancaman di dalam negeri.

Ryan Kiryanto, Kepala Ekonom PT Bank Nasional Indonesia Tbk., mengungkapkan kebijakan ini merupakan langkah antisipasi menghadapi problem defisit transaksi berjalan yang melebar mendekati 3 persen terhadap PDB pada 2018.

Selain itu, keputusan itu juga taktis karena dimaksudkan untuk memperkuat stabilitas eksternal perekonomian di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global, terutama Tiongkok, AS dan Uni Eropa.

"Ibarat permainan sepakbola, langkah BI memperkuat pertahanan domestik dari tekanan eksternal merupakan langkah yang cerdas sebelum tekanan eksternal tadi makin kuat dan besar," ujar Ryan, Kamis (21/03/2019).

Dia mengibaratkan kebijakan BI tersebut sebagai benteng pertahanan yang harus diperkuat dulu melalui jalur suku bunga.

Tidak hanya itu, BI juga menyusun kekuatan tambahan melalui kebijakan lain yang akomodatif untuk meningkatkan konsumsi di dalam negeri.

Kebijakan tersebut a.l. operasi moneter untuk memperkuat likuiditas dengan cara transaksi term repo dan FX swap; kebijakan makroprudensial dengan menaikkan RIM 80-92 persen menjadi 84-94 persen; pendalaman pasar keuangan dengan market conduct dan beleid instrumen derivatif suku bunga IRS -OIS; dan penguatan kebijakan sistem pembayaran sejalan dengan trend ekonomi keuangan digital. 

"Dapat dipastikan kalangan perbankan, dunia usaha dan pelaku pasar modal merespon positif keputusan RDG BI tersebut karena stance kebijakan BI makin jelas, yakni market and investor friendly," kata Ryan.

Dari sisi perbankan, dia yakin bank tidak akan tergoda menaikkan suku bunga simpanan dan kredit, permintaan kredit meningkat lantaran dunia usaha makin ekspansif dan investor asing bergairah masuk ke pasar keuangan domestik.

Tekanan Defisit

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual mengungkapkan penurunan defisit transaksi berjalan diperkirakan masih sulit pada awal tahun ini seiring dengan risiko impor dan harga minyak yang cenderung meningkat.

"Perbaikannya mungkin gradual karena impor masih tinggi karena nanti ada pola musiman," papar David, Kamis (21/03/2019).

Dia melihat mungkin perbaikan yang lebih pasti dapat terjadi selepas kuartal kedua tahun ini.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan bank sentral meyakini adanya perbaikan di dalam neraca pembayaran pada kuartal I/2019.

"Surplus neraca modal akan naik terutama aliran modal asing masuk, khususnya dalam portofolio investasi di dalam SBN," ungkap Perry.

Selain neraca pembayaran yang surplus, defisit transaksi berjalan juga diperkirakan akan menurun. Dalam hal ini, BI masih optimistis target sasaran defisit transaksi berjalan sebesar 2,5 persen terhadap PDB dapat tercapai.

"Tentu saja untuk turunkan defisit dan menaikkan neraca pembayaran, koordinasi BI dan pemerintah akan terus dilakukan, di antaranya Rakorpusda pariwisata untuk meningkatkan sumber devisa, sumber devisa terbesar setelah kelapa sawit dan batu bara," kata Perry. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suku bunga acuan

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup