3 Bank ini Himpun Dana Lewat Sertifikat Deposito di Pasar Modal

Sejumlah bank swasta menghimpun likuiditas lewat instrumen sertifikat deposito (negotiable certificates of deposit/NCD) sepanjang Maret April 2019.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 29 April 2019  |  15:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank swasta menghimpun likuiditas lewat instrumen sertifikat deposito (negotiable certificates of deposit/ NCD) sepanjang Maret – April 2019.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Minggu (28/4/2019), setidaknya ada tiga bank skala menengah besar yang mulai menggalang dana dengan emisi instrument surat berharga.

Salah satunya yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. juga melakukan emisi sertifikat deposito dengan nama NCD I BNI tahun 2019 senilai Rp950 miliar yang terbagi dalam empat seri.

Seri A dengan tingkat diskonto 7,3% per tahun memiliki jumlah pokok Rp60 miliar dengan tenor tiga bulan. Seri B dengan jumlah pokok Rp140 miliar dan tenor enam bulan memiliki tingkat bunga 7,58%.

Sementara itu  seri C dengan jumlah pokok Rp150 miliar memiliki tingkat bunga 7,68% dan tenor sembilan bulan. Terakhir, seri D yang semula akan diterbitkan dengan jumlah pokok Rp650 miliar, tapi kemudian diubah menjadi Rp600 miliar, memiliki tenor 12 bulan dan tingkat bunga 7,77% per tahun.

NCD I BNI Tahun 2019 mulai didistribusikan pada 28 Maret 2019. BNI menunjuk tiga joint arrangers dalam emisi kali ini yakni PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas.

Dalam catatan Bisnis, beberapa waktu lalu BNI menyatakan total dana nonkonvensional yang diincar pada tahun 2019 mencapai Rp20 triliun.

Hal tersebut demi menunjang kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek mengingat pertumbuhan kredit yang diprediksi masih lebih tinggi dari dana pihak ketiga (DPK).

Direktur Treasuri dan Internasional BNI Rico Rizal mengatakan bahwa jumlah total tersebut akan dibagi dalam denomoninasi valuta asing dan rupiah.

“Jenis instrument serta timing masuk pasar akan disesuaikan dengan kondisi likuiditas dan kebutuhan ekspansi kredit,” katanya.

Memulai awal kuartal II/2019, PT Bank Commonwealth menerbitkan NCD VI Tahap I tahun 2019 dengan jumlah pokok Rp370 miliar.

Instrumen NCD VI Bank Commonwealth VI tahap I diterbitkan dengan tenor 12 bulan dan tingkat diskonto 7,88% per tahun serta mulai didistribusikan pada 9 April 2019.

Bank yang berpusat di Australia itu menunjuk PT BCA Sekuritas dan PT BNI Sekuritas sebagai arranger dalam penerbitan surat berharga tersebut. Dalam laporan unaudited per akhir Desember 2018, Commonwealth mencetak laba bersih Rp49,07 miliar.

Pencetakan laba tersebut masih turun bila dibandingkan dengan 2017 yang mencapai Rp78,57 miliar atau terpaut 37,54%. Akan tetapi, kondisinya mulai membaik dibandingkan dengan pada 2015 dan 2016 ketika perseroan membukukan rugi masing-masing Rp436,06 miliar dan Rp59,99 miliar.

Dari sisi aset juga terjadi kenaikan dalam dua tahun terakhir, walaupun hanya satu digit.

Bank ketiga yang menggalang dana dari pasar modal pada awal kuartal II/2019 yakni PT Bank Maybank Indonesia Tbk.

Bank asal Malaysia ini menerbitkan NCD dengan jumlah total Rp570 miliar yang mulai didistribusikan pada 4 April 2019. NCD VIII Bank Maybank tahun 2019 tersebut terdiri dari seri A dan B dengan tingkat diskonto masing-masing 7,70% dan 7,9% per tahun.

Seri A memiliki jumlah pokok Rp200 miliar dan tenor enam bulan. Seri B yang memiliki tenor lebih panjang yakni 12 bulan memiliki jumlah pokok Rp370 miliar.

Selain NCD, Maybank juga melakukan penawaran umum berkelanjutan melalui obligasi berkelanjutan II Bank Maybank dengan target dana Rp640,5 miliar. Penawaran umum obligasi berkelanjutan (PUB) itu dilakukan pada Maret atau berselang seminggu sebelum penerbitan NCD.

PUB II Bank Maybank Indonesia Tahap IV tahun 2019 berjumlah total Rp640,5 miliar terdiri atas dua bagian, yakni seri A sebesar Rp408,3 miliar dengan tenor 370 hari kalender dan tingkat bunga 7,75% per tahun.

Adapun, seri B sebesar Rp232,2 miliar bertenor lebih panjang yakni 3 tahun dengan tingkat bunga 8,70% per tahun.

Emisi surat berharga jangka menengah ini merupakan bagian dari penawaran umum berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan II Bank Maybank Indonesia dengan target dana Rp2,5 triliun yang efektif sejak 21 Juni 2017.

Sebelumnya perseroan telah melakukan penerbitan tahap I tahun 2017 sebesar Rp835 miliar pada 6 Oktober, lalu tahap II pada 15 Maret 2018 sebesar Rp645,5 miliar serta tahap III pada 26 Oktober 2018 sebesar Rp379 miliar.

PUB Tahap IV kali ini ditawarkan sejak 22 Maret 2019 dan mulai didistribusikan secara elektronik pada 27 Maret 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bni, sertifikat deposito, bank commonwealth, Maybank Indonesia, likuiditas bank

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top