Sempat Anjlok, Penyaluran Kredit Sektor Pertambangan Mulai Tumbuh

Penyaluran kredit perbankan ke sektor pertambangan kembali mengalami pertumbuhan setelah sempat melambat beberapa waktu yang lalu.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 04 Mei 2019  |  19:58 WIB
Sempat Anjlok, Penyaluran Kredit Sektor Pertambangan Mulai Tumbuh
Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta memaparkan Laporan Kinerja BNI 2018 di Jakarta, Rabu (23/1/2019). - ANTARA/Reno Esnir

Bisnis.com, JAKARTA – Penyaluran kredit perbankan ke sektor pertambangan kembali mengalami pertumbuhan setelah sempat melambat beberapa waktu yang lalu.

Menurut catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit ke sektor pertambangan menjadi salah satu kontributor utama pengerek kenaikan kredit pada kuartal awal 2019.

Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK menyatakan pertumbuhan kredit perbankan selama kuartal awal mencapai 11,55% secara year on year (YoY). Dilihat dari sektornya, ada tiga sektor yang mengalami pertumbuhan paling signifikan yakni pertambangan sebesar 31,5% secara year on year (YoY)

Adapun sektor konstruksi meningkat 27,1% (YoY). Sementara itu, bidang industri pengolahan, salah satu sektor dengan porsi kredit terbesar tumbuh sebesar 9,5% (YoY).

Salah satu bank yang mengalami kenaikan kredit pertambangan cukup signifikan yakni PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Bank BNI penyaluran kredit di sektor pertambangan sebesar Rp15,3 triliun pada kuartal I/2019, tumbuh sebesar 47,8% secara tahunan.

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengatakan ekspansi di sektor pertambangan ini utamanya didominasi oleh debitur BUMN pengelola minyak negara.

Herry menjelaskan, jika dibandingkan dengan posisi akhir tahun pada 2018, capaian kredit untuk sektor pertambangan di kuartal ini mengalami sedikit penurunan. 

“Kredit pertambangan masih mengalami sedikit penurunan karena tren penyaluran kredit sektor ini akan mengikuti kebutuhan debitur,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Perseroan memproyeksikan penyaluran kredit pertambangan akan melaju lebih kencang pada semester II/2019. Hingga akhir tahun, emiten bersandi BBNI itu membidik penyaluran kredit sektor tambang akan tumbuh di kisaran 10%.

“Bank BNI akan fokus pada debitur utama di sektor ini dan akan mengoptimalisasi strategi supply chain financing,” tuturnya..

Sepanjang kuartal I 2019, BBNI membukukan kinerja yang positif perolehan laba bersih naik 11,5% (YoY)  menjadi Rp4,08 triliun. Selain itu, perseroan juga mencatatkan kredit yang tumbuh 18,6% yoy menjadi Rp521,35 triliun dari Rp 439,46 triliun pada Maret 2018. 

Dihubungi terpisah, PT Bank Central Asia Tbk. menyatakan porsi penyaluran kredit bank bersandi BBCA ke sektor pertambangan tidak terlalu besar. Menurut Sekretaris Perusahaan PT Bank Central Asia Tbk. Jan Hendra, kontribusi sektor tersebut belum signifikan.

Hingga kuartal I/2019, penyaluran kredit BCA ke sektor pertambangan hanya sebesar Rp2 triliun dari total keseluruhan kredit yang telah disalurkan.

Pada kuartal I/2019, Bank BCA mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp532 triliun, tumbuh 13,2% secara tahunan. “BCA tidak memiliki eksposur besar pada sektor pertambangan,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. mengungkapkan penyaluran kredit ke sektor pertambangan dan penggalian mengalami pertumbuhan dua digit secara tahunan.

“Realisasi sampai dengan Maret yakni kurang dari 5% secara year to date (YtD) dan di atas 10% secara YoY,” katanya Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas kepada Bisnis, Selasa (30/4/2019).

Rohan mengatakan prospek sektor pertambangan ke depan masih dipengaruhi beberapa hal termasuk harga komoditas yang cenderung fluktuatif. Selain itu permintaan domestik dan ekspor yang meningkat tetapi masih berpotensi dipengaruhi oleh perang dagang dan nilai tukar.

Oleh karena itu emiten bersandi BMRI itu membidik pertumbuhan kredit sektor pertambangan dan penggalian di level yang cukup konservatif yakni hingga 5% secara tahunan.

“Sehingga untuk tahun 2019, BMRI akan tumbuh konservatif pada sektor-sektor yang berkaitan dengan komoditas, di mana artinya sektor tersebut bukan merupakan fokus tumbuh BMRI,” ujar Rohan.

Secara keseluruhan, realisasi penyaluran kredit BMRI hingga Maret 2019 cukup signifikan yakni sebesar 12,4% (YoY) menjadi Rp790,5 triliun. Khusus untuk penyaluran kredit produktif tercatat sebesar Rp522,6 triliun atau 76,3% dari portofolio kredit secara individual bank.

Sedangkan dari sisi penghimpunan dana, BMRI mengalami pertumbuhan 7,6% (YoY) atau sebesar Rp58,5 triliun menjadi Rp827,8 triliun. Sejalan dengan itu, aset Bank Mandiri meningkat 9,8% (YoY) menjadi sebesar Rp1.206,0 triliun. Realisasi penyaluran kredit dan penghimpunan dana itu juga membuat bank mampu mencetak laba bersih sebesar Rp7,2 triliun, tumbuh 23,4% (YoY).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kredit, bank bni

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top