CIPS : Sosialisasi Literasi Keuangan Daring Perlu Digencarkan

Pemerintah dinilai perlu lebih menggencarkan sosialisasi tentang literasi keuangan daring kepada berbagai kalangan masyarakat untuk meningkatkan potensi perekonomian dari e-commerce serta mengingat pengguna internet di Indonesia sudah dominan di Nusantara.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 07 Juni 2019  |  12:10 WIB
CIPS : Sosialisasi Literasi Keuangan Daring Perlu Digencarkan
Nasabah mencoba layanan top up Mandiri e-money di sela-sela peresmian perluasan top up, di kantor pos, Jakarta, Rabu (9/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah dinilai perlu lebih menggencarkan sosialisasi tentang literasi keuangan daring kepada berbagai kalangan masyarakat untuk meningkatkan potensi perekonomian dari e-commerce serta mengingat pengguna internet di Indonesia sudah dominan di Nusantara.

"Pemerintah perlu perkuat sosialisasi terkait literasi keuangan daring di Indonesia. Dengan meningkatnya literasi keuangan daring masyarakat, potensi perdagangan elektronik bisa ditingkatkan," kata peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (7/6/2019).

Menurut Galuh Octania, perdagangan elektronik masih memiliki hambatan dalam penerapannya di Tanah Air, antara lain masih kurangnya literasi keuangan daring di masyarakat.

Padahal, transaksi keuangan daring memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah efisiensi pemangkasan waktu transaksi yang dapat berimbas pada peningkatan pelayanan.

Selain itu, transaksi keuangan digital diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah untuk mengurangi jumlah uang beredar yang akan mempengaruhi tingkat inflasi.

Sebelumnya, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna Internet di Tanah Air pada 2018 mencapai 171 juta orang dari total penduduk Indonesia sebanyak 264 juta jiwa.

Dengan demikian, menurut APJII dalam paparannya pada Rabu (15/5) malam, penetrasi Internet di Indonesia pada tahun lalu sebesar 64,8 persen.

Hasil tersebut didapat dari survei penetrasi dan profil pengguna Internet yang dilakukan pada periode 9 Maret - 14 April 2019 terhadap 5.900 responden, yang menggunakan Internet selama minimal empat bulan dari waktu pengumpulan data.

Melalui survei itu, APJII juga mencatat pertumbuhan pengguna Internet sebanyak 27,9 juta atau 10,12 persen dalam setahun. Berdasarkan data di lapangan, Jawa masih menjadi penyumbang terbesar pengguna Internet, sebanyak 55 persen, disusul Sumatera 21 persen.

Kemudian, persentase pengguna Internet di Kalimantan mencapai 9 persen, sementara Bali dan Nusa Tenggara 5 persen. Lalu, Sulawesi-Maluku-Papua berkontribusi 10 persen dari total seluruh pengguna Internet di Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
literasi keuangan

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top