Piutang Pembiayaan Turun Selama April 2019, Ini Alasannya

Data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan piutang perusahaan pembiayaan pada April 2019 mencapai Rp440,93 triliun, hanya tumbuh 4,51 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018 senilai Rp421,88 triliun.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 10 Juni 2019  |  07:40 WIB
Piutang Pembiayaan Turun Selama April 2019, Ini Alasannya
Adira Finance. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan piutang perusahaan pembiayaan pada April 2019 hanya sekitar 4,51 persen, atau tidak setinggi bulan-bulan sebelumnya yang mencapai 5 persen.

Data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan piutang perusahaan pembiayaan pada April 2019 mencapai Rp440,93 triliun, hanya tumbuh 4,51 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018 senilai Rp421,88 triliun.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menilai hal itu disebabkan oleh menurunnya penjualan kendaraan roda empat yang terjadi sejak awal 2019. Selain itu daya beli masyarakat belum mampu mengerek kinerja pembiayaan.

Dia menampik pertumbuhan piutang pembiayaan yang tidak maksimal pada April 2019 disebabkan oleh efek pemilu.

“Penjualan mobil roda empat Januari 2019 drop 350.000 [unit], padahal proyeksi 1 juta [unit], semoga semester II bisa lebih baik,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Namun, dia tetap optimistis pembiayaan akan kembali tumbuh pada Mei 2019 hingga 15 persen--20 persen seiring dengan momentum Lebaran 2019.

Dalam periode yang sama, data OJK menunjukkan pembiayaan multiguna masih mendominasi sekitar 57,56 persen atau senilai Rp263,82 dari total pembiayaan.

Pembiayaan roda dua baik bekas maupun baru tercatat tumbuh 6,64 persen menjadi Rp99,35 triliun (year on year). Adapun pembiayaan roda empat bekas dan baru mencapai Rp191,33 triliun, hanya tumbuh 2,57 persen secara tahunan.

Sementara itu, pembiayaan syariah masih mencetak pertumbuhan minus 31 persen menjadi Rp17,73 triliun, dibandingkan April 2018 senilai Rp25,69 triliun.

Menurut Suwandi, pembiayaan syariah masih terkendala masalah pendanaan. Dengan turunnya POJK No.10/2019 tentang pembiayaan syariah, diharapkan dapat memperjelas arah pembangunan bisnis pembiayaan syariah ke depannya.

“Jadi kalau masalah pemain yang main di full syariah, mereka masih konsolidasi, jadi belum jor-joran memberikan pinjaman,” jelasnya.

Secara keseluruhan, non performing financing (NPF) industri pembiayaan tercatat menurun yakni sebesar 2,76 persen dibanding sebelumnya 3,01 persen pada April 2018.

Sebelumnya, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk., mencatatkan pembiayaan baru senilai Rp Rp12,55 triliun sepanjang Januari 2019 -- April 2019, tumbuh 6 persen secara tahunan. Kontribusi terbesar masih disokong dari otomotif lebih dari 90 persen, sementara pembiayaan durable goods seperti elektronika dan gadgets hanya berkisar 2 persen--3 persen.

Adira Finance meyakini pembiayaan kendaraan bakal naik 5 persen—10 persen pada Mei 2019, dibandingkan dengan bulan biasanya. Adapun pembiayaan syariah Adira Finance mulai mencatatkan pertumbuhan 94,15 persen menjadi Rp631 miliar dari April 2018 senilai Rp325 miliar.

Sementara itu, PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) mencatatkan pencairan CNAF telah mencapai sekitar Rp1 triliun, tumbuh sekitar 40 persen.

Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan saat ini perusahaan tengah fokus untuk membenahi bisnis pembiayaan kendaraan dalam satu sampai dua tahun ke depan. Setelahnya, perusahaan akan mulai mengekspansi bisnis unit usaha seperti pembiayaan syariah.

“Syariah tergantung dari nasabahnya. Namun, suka tidak suka di Indonesia mayoritas beragama muslim, jadi buat saya opportunity-nya sangat besar,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pembiayaan

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top