Mayapada Bakal Rights Issue Rp1 Triliun Akhir September 2019

Pada tahun ini MAYA tidak akan menerbitkan obligasi subordinasi, tetapi masih tetap melakukan penambahan modal lewat rights issue, targetnya pada akhir kuartal III/ 2019 dengan nilai kurang lebih Rp1 triliun.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  14:06 WIB
Mayapada Bakal Rights Issue Rp1 Triliun Akhir September 2019
Pendiri Grup Mayapada Dato Sri Tahir menjawab pertanyaan wartawan usai bertemu Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo untuk melaporkan penukaran uang dolar AS dan dolar Singapura senilai Rp2 triliun, di Jakarta, Senin (15/10/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Mayapada International Tbk. menyatakan akan terus menambah permodalan untuk mendukung ekspansi bisnisnya.

Presiden Direktur Bank Mayapada Haryono Tjahrijadi menjelaskan, pada tahun ini perseroan tidak akan menerbitkan obligasi subordinasi, tetapi masih tetap melakukan penambahan modal lewat rights issue.

Penerbitan saham baru tersebut ditargetkan terealisasi pada akhir kuartal III/2019.

“Nilainya kurang lebih Rp1 triliun. Untuk emisi surat utang subordinasi tidak ada karena kami melihat pasarnya cukup ketat,” katanya kepada Bisnis, Rabu (10/7/2019).

Kendati begitu, Haryono enggan memerinci rencana total saham yang akan diterbitkan dan kontribusi terhadap peningkatan rasio permodalan. “Saat ini semuanya masih dihitung,” katanya singkat.

Sebagai gambaran, permodalan inti (tier 1) bank berkode saham MAYA tersebut tercatat sebesar Rp8,39 triliun per akhir Maret 2019, tumbuh dari 26,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,62 triliun.

Adapun, posisi rasio kecukupan permodalan (capital adequacy ratio/CAR) perseroan tercatat di level 14,59% meningkat dari Maret 2018 sebesar 12,89%.

Asal tahu saja, bank yang dikendalikan oleh taipan Dato’ Sri Tahir tersebut rutin melakukan penambahan modal setiap tahun sejak 2013, baik lewat penawaran umum terbatas maupun aksi emisi obligasi subordinasi.

Nilai penerbitan saham baru tersebut mengalami tren peningkatan dari tahun ke tahun. Adapun, nilainya berturut-turut sejak 2013 hingga 2018 masing-masing senilai Rp300 miliar, Rp500 miliar, Rp650 miliar, Rp1 triliun, Rp1 triliun dan terakhir Rp2 triliun pada akhir tahun lalu.

Upaya tersebut membuat MAYA mampu naik kelas menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) III per 2017 lalu. Menurut Haryono, pemegang saham perseroan masih berkomitmen untuk memperkuat permodalan MAYA hingga naik kelas menjadi BUKU IV.

“Akan terus ditambah supaya bisa naik BUKU lagi. Dengan rajin menambah modal daan menumpuk laba ditahan, makanya kami bisa naik ke BUKU III. Pemegang saham mau bank ini menjadi bank besar dengan fokus bisnis di segmen korporasi dan UMKM,” paparnya.

Mengutip laporan keuangan per akhir kuartal I/2019, Dato Sri Tahir masih tercatat sebagai pemegang saham pengendali (PSP) Bank Mayapada melalui PT Mayapada Karunia (26,42%) dan JPMCB Na Re-Cathay Life Insurance Co Ltd. (40,00%).

Pemegang saham bukan PSP pengendali melalui pasar modal dengan kepemilikan di atas 5% yakni Gelasco Investments Limited, Unity Rise Limited dan masyarakat dengan porsi masing-masing sebesar 10,00%, 7,31% dan 16,27%.

Dari sisi performa bisnis, Bank Mayapada mencatatkan penurunan jumlah laba bersih pada akhir Maret lalu menjadi Rp142,78 miliar dari sebelumnya sebesar Rp228,10 miliar pada Maret 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank mayapada

Editor : Emanuel B. Caesario

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top