Mengapa Suku Bunga BI Harus Turun? Ini Dia Penjelasan LPEM FEB UI

Bank Indonesia perlu menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75% untuk mendukung aktivitas ekonomi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  12:47 WIB
Mengapa Suku Bunga BI Harus Turun? Ini Dia Penjelasan LPEM FEB UI
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (ketiga kanan) menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 18-19 Juli 2018 di Gedung BI, Jakarta, Kamis (19/7). - Bisnis/Hadijah Alaydrus

Bisnis.com, JAKARTA -- Bank Indonesia perlu menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75% untuk mendukung aktivitas ekonomi.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menyebut Bank Indonesia sempat mempertahankan suku bunga kebijakan bulan lalu. BI lebih memilih menurunkan rasio giro wajib minimum sebesar 50 basis poin dan terus mengakumulasi lebih banyak cadangan devisa sambil menjaga likuiditas di pasar uang.

Namun, LPEM memandang suku bunga kebijakan BI perlu disesuaikan bulan ini. Pasalnya, tren arus modal masuk yang relatif deras, memungkinkan BI untuk mengakumulasi cadangan devisa dan mempertahankan nilai tukar stabil pada kisaran Rp14.000-Rp14.300.

"Ini akan memberikan kepercayaan lebih kepada BI untuk menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 25 bps bulan ini menjadi 5,75%," ujar LPEM FEB UI melalui laporannya yang dikutip Bisnis.com, Kamis (18/7/2019).

LPEM FEB UI juga menyatakan kemiringan yield curve dipercaya sebagai prediktor resesi karena mengandung informasi tentang aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, terutama jika negara tersebut memiliki pasar keuangan yang dalam.

"Inversi yield curve AS yang mulai terjadi sejak Maret 2019 telah meningkatkan persepsi negatif pada perekonomian AS dalam jangka pendek," terangnya.

Hal ini berbeda dengan yield curve AS, yield curve Indonesia tidak secara langsung terkait dengan aktivitas ekonomi riil. Aliran investasi portofolio biasanya sangat menentukan kemiringan yield curve Indonesia; ini mencerminkan ketergantungannya terhadap pasar modal global.

Meskipun tak ada krisis sejak 1997, yield curve 10Y-3M di Indonesia telah sangat menjelaskan tingkat pertumbuhan PDB dalam dua kuartal, dengan korelasi sebesar 0,92.

Tampaknya, yield curve Indonesia memiliki kemampuan prediksi yang kuat terhadap kegiatan ekonomi pada masa mendatang.

Oleh sebab itu, sudah saatnya terjadi pelonggaran moneter. Alasannya Indonesia tengah menikmati peningkatan aliran modal masuk dari investasi portofolio dengan total akumulasi aliran modal masuk sekitar US$5 miliar sejak Mei 2019.

"BI membeli sebagian besar dari dolar AS ini; posisi cadangan devisa pada Juni 2019 meningkat menjadi US$123,8 miliar. Rupiah menguat dari Rp14.400 pada pertengahan Mei hingga Rp14.100 saat ini," tuturnya.

Kekhawatiran atas ketegangan perang dagang AS-Tiongkok dan sikap dovish The Fed telah membawa arus modal kembali ke obligasi negara-negara berkembang.

Selain itu, penurunan risiko yang dirasakan oleh investor, terutama setelah peningkatan peringkat kredit Indonesia dari S&P pada akhir Mei ke BBB, mengakibatkan berlanjutnya aliran modal masuk asing ke pasar domestik dan diperkirakan akan terus berlanjut.

Hal ini membuat imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia pada Juni menjadi lebih rendah dibandingkan dengan Mei. Imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun dan 1-tahun telah turun masing-masing menjadi 7,2% dan 6,1%; turun dari 7,8% dan 6,6% pada Juni.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Suku Bunga

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top