Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Infrastruktur Masih Menjadi Kendala Jangkauan Agen Laku Pandai

Infrastruktur dinilai masih menjadi kendala pertumbuhan agen Layanan Keuangan Perbankan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai), khususnya di daerah terpencil.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  16:39 WIB
Electronic Data Capture.  - Antara
Electronic Data Capture. - Antara

Bisnis.com, BANYUWANGI - Infrastruktur dinilai masih menjadi kendala pertumbuhan agen Layanan Keuangan Perbankan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai), khususnya di daerah terpencil.

Seperti diketahui, Laku Pandai merupakan penyediaan layanan perbankan dan/atau layanan keuangan lain yang dilakukan tidak melalui jaringan kantor, namun melalui kerjasama dengan pihak lain (agen), didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi.

Produk yang disediakan oleh agen, di antaranya tabungan BSA atau basic saving acccount, kredit mikro, asuransi mikro, dan produk keuangan lainnya, seperti pembukaan rekening uang elektronik.

Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Mohammad Miftah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan ketersediaan sinyal dan jalan dari sisi kuantitas dan kualitas akan mendukung kelancaran pemrosesan dokumen pembukaan rekening BSA dan kegiatan monitoring agen oleh Bank.

"Masalah IT menjadi kunci, masih banyak daerah yang blankspot, sementara transaksi Laku Pandai adalah real time. Selain itu, proses pembukaan rekening terhambat akibat minimnya kualitas jalan menuju agen berlokasi," katanya, baru-baru ini.

Oleh karena itu, dalam hal ini, Mifftah mengatakan dukungan dari pemerintah sangat diperlukan dalam penyediaan infrastruktur, sehingga target inklusi keuangan 75 persen yang ditetapkan pemerintah pada tahun ini bisa tercapai.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Adapun, berdasarkan data Global Findex Tahun 2017, baru 49 persen atau 95,4 juta penduduk dewasa Indonesia yang memiliki rekening, sehingga membutuhkan sekitar 52,6 juta rekening baru agar dapat mencapai target 75 persen di 2019.

Selain infrastruktur, Miftah mengutarakan, literasi keuangan penduduk yang masih rendah juga menjadi kendala perkembangan agen Laku Pandai.

Menurutnya, masyarakat unbankable belum sepenuhnya memahami produk bank dan manfaatnya untuk membantu kegiatan ekonomi sehari-hari, sehingga diperlukan koordinasi lebih lanjut dengan pemerintah daerah (pemda).

Otoritas mencatat agen laku pandai meningkat secara signifikan, tumbuh sebesar 47,35 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 1,12 juta agen per Juni 2019.

Dari total 1,12 juta agen tersebut, sebanyak 222.020 merupakan agen bank syariah, sehingga total real agent berjumlah 901.078 agen.

Pada periode yang sama, rekening BSA dan saldo BSA pun tercatat meningkat dengan masing-masingnya tumbuh 20,02 persen yoy menjadi 24,22 juta rekening dan 47,14 persen yoy menjadi Rp2,49 triliun.

Sementara itu, hingga kuartal II/2019, penyaluran kredit mikro melalui agen tercatat sebesar Rp49,07 miliar melalui tiga bank penyelenggara, di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. PT Bank BTPN Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

laku pandai
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top