Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon : Merangsang Milenial Berasuransi

AAJI kembali menggelar ajang tahunan bergengsi Top Agent Awards di Solo. Kegiatan yang digelar 7—9 Agustus 2019 itu mengusung tema ‘Kirana Nusantara’. Apa saja gagasan yang mendasari tema itu dan bagaimana AAJI mengemas event tersebut? Untuk mengetahuinya, Bisnis mewawancarai Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon.
Oktaviano DB Hana, Wibi Pangestu Pratama, Nindya Aldila
Oktaviano DB Hana, Wibi Pangestu Pratama, Nindya Aldila - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  12:15 WIB
Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon : Merangsang Milenial Berasuransi
Ketua Dewan PengawasAsosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon (kiri)danKetua PanitiaTop Agen Awards (TAA)2019 Arjanti Efrin di sela-sela pembukaan rangkaian kegiatan TAA 2019, di Solo, Kamis (8/8/2019). - Bisnis/Oktaviano DB Hana

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) kembali menggelar ajang tahunan bergengsi Top Agent Awards di Solo. Kegiatan yang digelar 7—9 Agustus 2019 itu mengusung tema ‘Kirana Nusantara’. Apa saja gagasan yang mendasari tema itu dan bagaimana AAJI mengemas event tersebut? Untuk mengetahuinya, Bisnis mewawancarai Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon. Berikut petikannya.

Apa misi dari acara Top Agent Awards tahun ini di Solo?

Kami mengumpulkan hampir 1.000 agen asuransi jiwa paling berprestasi di Indonesia dari 60 perusahaan asuransi jiwa di Indonesia. Mereka adalah duta asuransi jiwa di garis paling depan. Tujuannya memberikan apresiasi kepada mereka.

Kami membawa beberapa tema dan pembicara untuk disampaikan kepada para agen supaya mereka semakin baik ke depannya. Industri ini juga punya kewajiban untuk terus meningkatkan pendidikan berkesinambungan. Ini adalah salah satu bagian dari program itu.

Kami memberikan penghargaan kepada mereka yang terbaik di beberapa kategori. Pada acara penutup, tema utamanya pemilihan agen asuransi terbaik se-Indonesia. Bukan hanya terbaik dari perusahaannya, tetapi 60 perusahaan asuransi jiwa dengan kriteria yang ketat dan dinilai oleh juri yang independen.

 Adakah tema khusus untuk tahun ini?

Konsep dan tema besar acara TAA 2019 adalah Kirana Nusantara. Kirana itu artinya sinar yang menunjukkan profesi agen yang gemilang karena kegigihan dan ketekunan, dan konsistensinya. Mereka membantu masyarakat untuk merencanakan masa depannya. Kami masih mempergunakan jalur agency sebagai kontribusi terbesar.

Ada turunan acara lagi dari Kirana, yakni Inspirasi Masa Depan yang diisi oleh public figure yang memiliki karya terbaik bagi negara dan memberikan inspirasi bagi agen-agen kita agar lebih termotivasi lagi. Lalu, ada turunan temanya lagi, yakni Gemerlap Bintang Nusantara untuk memilih agen terbaik dari yang terbaik. Konsep TAA 2019 kali ini agak berbeda karena mengusung talk show terkait dengan perencanaan masa depan dan sasaran milenial.

 Apa saja rangkaian kegiatan TAA 2019?

Kami melaksanakan serangkaian kegiatan di Solo yang merupakan bagian dari acara Top Agent Award pada 7—9 Agustus 2019. Ini adalah acara terbesar AAJI yang diselenggarakan setiap tahunnya. Kami melakukan beberapa kegiatan yang memuat misi tanggung jawab sosial industri (industry social responsibility/ISR) dalam hal ini ke masyarakat Kota Solo.

Kami mendapatkan izin dari Pemerintah Kota Solo untuk merenovasi Taman Manahan. Beberapa anggota AAJI telah berkontribusi dengan menginstalasi fasilitas olahraga di dalam taman tersebut dan memberikan wahana permainan anak-anak di sana.

Dengan begitu, diharapkan masyarakat Kota Solo bisa menikmati tamannya dengan lebih baik lagi dan beraktivitas pagi dan sore hari di sana. Semoga masyarakat Kota Solo ingat dengan industri asuransi jiwa.

Di Hall de Tjolomadoe juga ada beberapa kegiatan yang dilakukan seperti senam kebugaran dan lainnya. Saat ini juga ada pasar rakyat serta financial literacy yang menjelaskan produk keuangan kepada masyarakat. Sore sampai malam hari ada kompetisi dance dan ditutup oleh band terkemuka. Selain itu, ada pula penghargaan kepada agen asuransi jiwa terbaik.

 Apakah event ini cukup efektif mendorong inklusi di sektor industri asuransi?

Kami selalu berganti tempat penyelenggaraan karena menjadi bagian dari strategi untuk menyosialisasikan dan menyebarluaskan pemahaman tentang industri asuransi jiwa di berbagai kota di Indonesia agar masyarakat paham tentang pentingnya perencanaan keuangan di masa depan menjadi semakin baik.  

Biaya pendidikan semakin lama semakin naik. Ketika seorang pencari nafkah meninggal dunia, ada kemungkinan pola pendapatan keluarga tersebut terkena dampak. Ada kemungkinan anak-anak yang ditinggal kelangsungannya jadi kena imbas. Tapi, kami yakin ada puluhan ribu anak di Indonesia yang tetap bisa melanjutkan sekolahnya sampai jadi sarjana meski orang tuanya terkena musibah. DI sinilah peran kami untuk menyiapkan mitigasi risiko tersebut dengan menawarkan proteksi asuransi jiwa.

Biaya kesehatan juga selalu meningkat. Meskipun sudah ada BPJS Kesehatan yang sangat baik sekali, ada beberapa orang yang belum terlayani karena keinginan pribadinya ingin berobat di jaringan rumah sakit yang belum bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Masalah ini semakin harus kita cermati, karena usia harapan hidup orang Indonesia semakin meningkat dengan kemajuan teknologi. Namun, ini juga menjadi risiko. Untuk itu, kita juga harus menyiapkan solusi perencanaan keuangan supaya pensiun kita lebih sejahtera sehingga tidak memberatkan anggota keluarga kita yang masih bekerja.

Bagaimana target AAJI untuk milenial?

Yang sudah dewasa saja apakah sudah sungguh-sungguh melek perencanaan keuangan? Ternyata masih belum. Memang kami melihat ada pola kesadaran berasuransi tidak terjadi sejak dini. Misalkan karena menikah, bekerja, atau kelahiran anak pertama.  Kalau kami lihat, jumlah milenial semakin banyak. Akses informasi mereka juga harusnya lebih banyak dibandingkan dengan generasi saya dulu. Mungkin memproteksi dirinya belum menjadi prioritas utama. Ini yang menjadi tanggung jawab kami dan pemikiran kami.

Berapa banyak kepemilikan asuransi hingga kini?

Kalau data kumpulan ada sekitar 30 juta jiwa tertanggung, terjadi penurunan dari 250 juta penduduk Indonesia, atau seperdelapannya. Kalau yang individu sekitar 18 juta polis per Desember 2018 dengan asumsi satu orang memiliki satu setengah polis. Jadi prediksi kami sekitar 12 juta orang tertanggung atau sekitar 5% dari total penduduk.

Bagaimana dengan klaim?

Klaim terus tumbuh. Pembayaran manfaat kepada yang sakit, meninggal dunia atau pensiun, tumbuh menjadi sekitar Rp45 triliun per kuartal I/2019, tumbuh sekitar 20% secara tahunan.

Premi?

Preminya agak turun karena kami melihat terjadi perubahan marketing strategy dari beberapa anggota kami. Yang tadinya banyak jualan single premium, sekarang mulai ke pembayaran premi berkala. Itu yang membuat pendapatan premi turun sekitar 11%—12%, tetapi penurunan single premi sekitar 25%. Jadi rasanya itu penyebabnya.

Bagaimana kontribusi agen?   

Agen masih menjadi kanal distribusi utama bagi industri asuransi jiwa hampir 50% per kuartal I/2019. Anggap ada Rp100 premi yang masuk ke industri asuransi jiwa, Rp50-nya berasal dari jalur distribusi agen.

Pewawancara: Tim Bisnis Indonesia

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Top Agen Asuransi

Editor : Emanuel B. Caesario

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top