BI: Kolaborasi Swiching Asing dan Lokal Penting Bagi GPN

Seperti diketahui, lembaga swicthing asal Amerika Serikat, Mastercard telah resmi masuk ke dalam sistem GPN melalui kemitraan dengan PT Artajasa Pembayaran Elektronis. Artinya PT Mastercard Indonesia dapat ikut menyediakan jasa sistem pembayaran transaksi kartu debit di dalam negeri.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  19:58 WIB
BI: Kolaborasi Swiching Asing dan Lokal Penting Bagi GPN
(Dari kiri ke kanan) Direktur Retail Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Donsuwan Simatupang, Brand Ambassador Laura Basuki, Direktur Bisnis & Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi, Brand Ambassador Nicholas Saputra, dan Mastercard Division President for Indonesia, Malaysia & Brunei Darussalam Safdar Khan saat acara peluncuran Mandiri Kartu Kredit Prioritas di Jakarta, Rabu (7/8/2019) malam. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia menilai kolaborasi lembaga switching lokal dan asing penting bagi kesuksesan program Gerbang Pembayaran Nasional (GPN). Bank sentral berharap hal tersebut akan membawa hal positif bagi sistem pembayaran di dalam negeri.

Seperti diketahui, lembaga swicthing asal Amerika Serikat, Mastercard telah resmi masuk ke dalam sistem GPN melalui kemitraan dengan PT Artajasa Pembayaran Elektronis. Artinya PT Mastercard Indonesia dapat ikut menyediakan jasa sistem pembayaran transaksi kartu debit di dalam negeri.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Sugeng mengatakan bahwa Mastercard sebagai pemain global dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapabilitas sistemp pembayaran Tanah Air.

“Mereka bisa sharing knowledge untuk keamanan transaksi, meningkatkan fraud detection system, dan ketahan siber,” katanya dalam acara Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Mastercard dan Artajasa di Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Kendati demikian dia menambahkan bahwa kemitraan kedua pihak tetap mengutamakan tujuan implementasi GPN. Bank sentral hendak mewujudkan interkoneksi dan interoperabilitas di dalam ekosistem pembayaran yang menggunakan kanal elektronik.

Bank sentral pun memastikan Mastercard berkerja dengan menggunakan pemrosesan di Indonesia dan mendirikan pusat data di Indonesia, serta menggunakan center bank money (CeBM).

CeBM merupakan sistem settlement atau penyelesaian dana yang dilakukan dengan menggunakan dana pada rekening giro yang ditatausahakan di bank sentral. Penerapan CeBM merupakan implementasi komitmen BI untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan stabilitas moneter.

Sementara itu per Juli 2019, rasio kartu berlogo GPN sekitar 22 persen terhadap total kartu ATM dan debit yang telah diterbitkan. Angka tersebut merepresentasikan 36,3 juta keping kartu beredar.

Bank Indonesia menargetkan penetrasi kartu berlogo garuda merah mencapai 30 persen tahun ini. Artinya bank sentral berharap distribusi kartu GPN mencapai 48,9 juta keping dengan asumsi total kartu ATM dan debit beredar per Juni 2019 sebanyak 162,9 juta keping.

Sugeng mencatat hal itu diikuti dengan jumlah transaksi yang tumbuh 40 persen secara bulanan (month to month/mtm) menjadi 13,6 juta transaksi dengan total nilai Rp6,21 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, mastercard

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top