Tiga BPR Kolaborasi dengan Tekfin Incar UKM

Sebanyak tiga Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bekerja sama dengan perusahaan finansial berbasis teknologi, PT Mediator Komunitas Indonesia (Crowdo) untuk menyasar penyaluran kredit kepada sektor usaha kecil dan menengah (UKM).
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  15:45 WIB
Tiga BPR Kolaborasi dengan Tekfin Incar UKM
Ilustrasi solusi teknologi finansial - flickr

Bisnis.com, JAKARTA - Sebanyak tiga Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bekerja sama dengan perusahaan finansial berbasis teknologi, PT Mediator Komunitas Indonesia (Crowdo) untuk menyasar penyaluran kredit kepada sektor usaha kecil dan menengah (UKM).

Head of Lender Relation Crowdo, Joshua Sihombing mengatakan tiga BPR tersebut adalah BPR Perdana, BPR Fiducia Civitas, dan BPR Supradanamas. Kolaborasi ini akan memperkuat ekosistem ekonomi digital yang tengah berjalan saat ini.

Menurut Direktur Utama BPR Perdana Ricardo Simatupang, kerja sama BPR dengan perusahaan tekfin adalah jawaban dari disrupsi digital yang tengah menjalar ke industri keuangan.

Setiap pihak yang terlibat dapat memanfaatkan kekuatan dari masing-masing perusahaan.

“Ini akan memperkuat jangkauan BPR dan tekfin dalam memberikan modal kerja bagi UKM yang tidak memiliki akses pembiayaan,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis.

Dia melanjutkan bahwa BPR memiliki pemahaman yang cukup tentang penyaluran kredit kepada sektor UKM. Tekfin dalam hal itu akan melengkapi dengan kemampuan dari sisi teknologi.

”Penandatanganan kerja sama sangatlah baik karena memperkuat jangkauan BPR dan Fintech dalam memberikan modal kerja bagi UKM yang tidak memiliki akses pembiayaan. BPR memiliki kekuatan dalam pemahaman industri UKM dan Fintech melengkapinya dengan kemampuan di sisi teknologi,

Komisaris Utama BPR Supradanamas dan BPR Fiducia Civitas Bachtiar M. Marbun selaku menambahkan bahwa industri perbankan harus bersiap untuk menghadapi era digitalisasi. Seperti diketahui, sektor finansial di Tanah Air seperti berlomba mengimplementasikan teknologi untuk menjaring nasabah serta debitur baru.

Adapun berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) penyaluran kredit oleh BPR cenderung menguat sepanjang 12 bulan terakhir.

Per Juni 2019, fungsi intermediasi bank yang wajib memiliki modal inti Rp6 miliar pada 2024 ini tumbuh 11,0 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp104,62 triliun.

Kredit modal konsumsi memberikan kontribusi tertinggi, 46,9 persen di antaranya, atau Rp47,67 triliun. Selanjutnya kredit modal kerja 45,5 persen dan kredit investasi 7,6 persen.

Sementa itu per Juni 2019, Indonesia tercatat memiliki 6.295 BPR. Sebanyak 75,1 persen di antaranya berada di Pulau Jawa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bpr, fintech

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top