LinkAja Optimalkan Captive Market UMKM Mitra Himbara

Bisnis.com, JAKARTA — PT Fintek Karya Nusantara atau Finarya akan menggarap mitra-mitra usaha dari Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara sebagai captive market untuk mendorong pertumbuhan inklusi keuangan.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 24 September 2019  |  16:41 WIB
LinkAja Optimalkan Captive Market UMKM Mitra Himbara
Menteri BUMN Rini Sumarno (kedua kiri), Direktur Utama BNI Achmad Baiquni (kedua kanan), Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga dan Direktur PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) Danu Wicaksana berbincang usai mencoba langsung aplikasi layanan keuangan elektronik LinkAja dalam ajang BNI Java Jazz Festival 2019 di Jakarta, Minggu (3 - 3). Layanan keuangan elektronik berbasis quick response code (QR code) bernama LinkAja merupakan gabungan layanan pembayaran elektronik dari beberapa badan usaha milik negara (BUMN).

Bisnis.com, JAKARTA — PT Fintek Karya Nusantara atau Finarya akan menggarap mitra-mitra usaha dari Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara sebagai captive market untuk mendorong pertumbuhan inklusi keuangan.

CEO Finarya, perusahaan yang mengelola LinkAja, Danu Wicaksana menjelaskan pihaknya terus melakukan pendekatan terhadap pelaku usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM) mitra Himbara untuk menggunakan layanan LinkAja.

Dia menjelaskan, saat ini bank-bank anggota Himbara memiliki sekitar 200.000 merchant, tetapi baru sekitar 50.000 UMKM yang telah menggunakan layanan LinkAja. Menurut Danu, jumlah tersebut perlu terus ditingkatkan.

"Satu-satu harus kami edukasi, memang butuh waktu karena kami tidak ingin cuma update teknologi dan bilang sudah [selesai], terus bilang ke media dan sebagainya. Yang lebih penting adalah update mesinnya, kami datangi, ajari supaya mereka mengerti," ujar Danu saat ditemui dalam gelaran Indonesia Fintech Summit & Expo 2019, Selasa (24/9/2019) di Jakarta.

Dia menjelaskan, captive market tersebut dapat menjadi target pasar yang baik dalam mendorong pemerataan inklusi keuangan. Oleh karena itu, dalam pengembangannya, LinkAja akan menyasar pasar yang lebih layak dan less crowded.

Untuk mendorong inklusi keuangan, LinkAja tidak akan sekadar menawarkan insentif agar tingkat transaksi meningkat. Menurut Danu, pelaku industri tekfin harus mengutamakan edukasi bagi para pelaku UMKM bahwa penggunaan transaksi non-tunai memiliki nilai tambah.

"Bukan hanya gedein valuasi dan sebagainya, tapi memang harus ada pengaruh untuk masyarakat di seluruh Indonesia," ujar Danu.

Selain itu, sebagai perusahaan tekfin berplat merah, LinkAja akan menjadi tangan kanan pemerintah dalam mendorong penggunaan layanan non-tunai untuk berbagai keperluan, seperti penyaluran bantuan sosial (bansos) hingga pembelian bahan bakar dan gas.

Danu pun menambahkan, pihaknya dapat membantu PT Pertamina (Persero) untuk melakukan penilaian kelayakan masyarakat dalam menerima produk bersubsidi, seperti gas LPG dan bensin premium, melalui data-data yang terkumpul dalam aplikasi LinkAja.

"Nanti diidentifikasi pakai sistem kami, jadi kalau orang masuk ke yang mampu, dia tidak bisa beli premium. Jadi pengaruhnya bukan cuma LinkAja makin gede, user bertambah, transaksi bertambah, tapi subsidi pemerintah ini tepat sasaran," ujar dia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fintech

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top