BI Beri Sinyal Masih Ada Ruang Relaksasi

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan likuiditas perbankan dijamin aman sampai dengan tahun depan. Hal ini mengingat sudah empat kali pemangkasan suku bunga acuan dari Juli sampai Oktober 2019 sebesar 100 basis poin, disusul pelonggaran Giro Wajib Minimum 50 basis poin untuk bank umum dan bank umum syariah.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 21 November 2019  |  17:13 WIB
BI Beri Sinyal Masih Ada Ruang Relaksasi
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia memberi sinyal masih ada ruang pelonggaran kebijakan moneter ataupun makroprudensial sampai kuartal I/2020 seiring dengan upaya mengantisipasi gejala perlambatan ekonomi global.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan likuiditas perbankan dijamin aman sampai dengan tahun depan. Hal ini mengingat sudah empat kali pemangkasan suku bunga acuan dari Juli sampai Oktober 2019 sebesar 100 basis poin, disusul pelonggaran Giro Wajib Minimum 50 basis poin untuk bank umum dan bank umum syariah. Kebijakan ini akan mengguyur perbankan Rp26 triliun mulai Januari 2020.

“Sehingga sampai kuartal I/2020 tentu saja tidak perlu khawatir dana itu ditambah dan siap menyalurkan kredit,” kata Perry di Kantor Bank Indonesia, Kamis (21/11/2019).

Dia menyatakan, perkembangan ekonomi domestik juga terjaga untuk mendorong bauran kebijakan. Hal ini tercermin dari inflasi IHK pada Oktober 2019 tercatat sebesar 0,02% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mencatat deflasi 0,27% (mtm). Secara tahunan, inflasi IHK Oktober 2019 tercatat 3,13% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi September 2019 sebesar 3,39% (yoy).

Inflasi yang terkendali, kata Perry, didorong oleh menurunnya inflasi pada kelompok inti. Hal ini seiring dengan ekspektasi inflasi yang baik dan konsistensi kebijakan moneter menjaga stabilitas harga, permintaan agregat yang terkelola baik, nilai tukar yang bergerak sesuai dengan fundamentalnya, serta pengaruh harga global yang minimal.

Perry menyatakan, kelompok volatile food pun kembali mengalami deflasi, meskipun tidak sedalam perkembangan bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi administered prices tercatat stabil. Dengan perkembangan tersebut, inflasi 2019 secara kumulatif sampai Oktober 2019 tercatat 2,22% (ytd).

Perry menyatakan, Bank Indonesia memprakirakan inflasi yang rendah akan berlanjut sehingga inflasi IHK 2019 berada di sekitar 3,1%. Dia menilai inflasi yang rendah tidak menandakan bahwa daya beli masyarakat sedang melemah. Sebaliknya, dengan inflasi yang relatif terjaga maka daya beli akan menguat, sehingga dia optimistis pada kuartal IV/2019 permintaan akan tumbuh besar dan mendorong pertumbuhan ekonomi capai 5,1%.

Perry menjamin, Bank Indonesia masih akan mencermati perkembangan ekonomi domestik dan global dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif. Tujuannya untuk tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Masih ada ruang bauran untuk moneter dan makroprudensial. Kami akan mencermati ke depannya,” ujar Perry.

Perry menambahkan, ruang pelonggaran kebijakan masih terbuka apalagi dengan pencatatan nilai tukar rupiah yang masih terkendali dan mengalami apresiasi. Dia mengumumkan bahwa secara rata-rata, rupiah mengalami apresiasi 0,42%, meskipun secara point-to-point (ptp), mengalami depresiasi 0,41% dibandingkan dengan level akhir Oktober 2019.

Dia pun menyatakan, dengan perkembangan tersebut maka rupiah sejak awal tahun sampai dengan 20 November 2019 menguat 2,03% (ytd). Pasalnya, penguatan rupiah didukung oleh pasokan valas dari para eksportir dan aliran masuk modal asing yang tetap berlanjut didorong prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga. Selain itu, daya tarik pasar keuangan domestik juga cukup besar, didukung ketidakpastian pasar keuangan global mulai mereda.

Perry menyebut bahwa Bank Indonesia memandang nilai tukar rupiah tetap stabil sesuai dengan fundamental dan mekanisme pasar yang terjaga. Prakiraan ini juga ditopang oleh prospek Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tetap baik seiring berlanjutnya aliran masuk modal asing ke Indonesia dipicu oleh berlanjutnya berbagai faktor positif.

“Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, baik pasar uang maupun pasar valas,” terang Perry.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suku bunga acuan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top