Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertumbuhan Kredit Bank OCBC NISP Pada 2019 Stagnan

PT Bank OCBC NISP Tbk. tidak mencatatkan pertumbuhan kredit sepanjang tahun lalu. Fungsi intermediasi bank yang dikendalikan oleh OCBC Singapura ini relatif stagnan.
Muhammad Khadafi & Lalu Rahadian
Muhammad Khadafi & Lalu Rahadian - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  16:24 WIB
OCBC Bank - Bloomberg
OCBC Bank - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank OCBC NISP Tbk. tidak mencatatkan pertumbuhan kredit sepanjang tahun lalu. Fungsi intermediasi bank yang dikendalikan oleh OCBC Singapura ini relatif stagnan.

“Capaian kredit relatif flat, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun 2020 diharapkan lebih baik,” kata Presiden Direktur OCBC NISP Parwati Surjaudaja kepada Bisnis, Kamis (16/1/2020).

Berdasarkan laporan publikasi bank, per Desember 2018 OCBC NISP menyalurkan dana sebesar Rp114,6 triliun. Pada periode itu bank melaporkan pertumbuhan dua digit atau 10,6% yoy.

Adapun sebelumnya, atau kuartal III/2019, fungsi intermediasi OCBC NISP juga tidak mencatat pertumbuhan. Portofolio pembiayaan bank sebesar Rp120 triliun atau setara dengan tahun lalu.

Stagnansi pertumbuhan kredit OCBC NISP diikuti dengan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 1,8%. Kemudian, rasio intermediasi (loan to deposit ratio/LDR) perseroan terhitung turun menjadi 90,6%.

Sementara itu, kuartal III/2019, bank mencatat laba bersih Rp2,2 triliun, naik 9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan laba ini didorong naiknya pendapatan nonbunga.

Pendapatan operasional nonbunga tumbuh 47,4% yoy menjadi Rp1,43 triliun. Pada saat yang sama pendapatan bunga bersih perseroan turun 0,2% yoy menjadi Rp4,77 triliun.

Pertumbuhan non-bunga ditenggarai oleh optimalisasi layanan digital bank. Selain itu inisiatif digital juga memberikan stimulus positif kepada dana pihak ketiga perseroan.

Dalam kesempatan itu, Parwati menambahkan bahwa pada 2020 perseroan akan mengandalkan pembiayaan ke sektor manufaktur dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pembiayaan kedua sektor ini dianggap memiliki prospek pertumbuhan yang baik di 2020.

"Iya, harapannya 2020 memang lebih baik. Memang 2019 jauh di bawah harapan karena kondisi makro terutama. Untuk 2020 fokusnya termasuk manufacturing dan sebagainya tetap kami akan utamakan terutama UMKM," kata Parwati.

Pertumbuhan kredit industri perbankan pada 2019 tercatat jauh di bawah target yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yakni 8 persen-10 persen. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebutkan, kredit perbankan hanya tumbuh 6,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Ditilik berdasarkan kelompok usahanya, Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II menjadi kelompok bank yang kreditnya tumbuh paling tinggi. Kelompok bank-bank bermodal inti antara Rp1 triliun-Rp5 triliun ini tumbuh 8,4 persen penyaluran pembiayaannya sepanjang 2019.

Kemudian, Bank pada BUKU IV tercatat tumbuh 7,8 persen yoy kreditnya. Kemudian BUKU III tumbuh 2,4 persen, dan BUKU I naik 6,4 persen.

Meski pertumbuhan pada 2019 tak mencapai target, namun OJK mematok proyeksi yang cukup tinggi untuk pembiayaan sepanjang 2020. Otoritas memasang target penyaluran kredit perbankan tumbuh kurang lebih 11 persen secara yoy.

"Untuk target-targetnya ya kami harapkan juga bisa terwujud karena pertumbuhannya harusnya lebih baik dibanding 2019. Sedangkan langkah-langkah strategis OJK tentang pengembangan teknologi kan memang sudah sejalan, ya memang harusnya seperti itu," ujar Parwati.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ocbc nisp
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top