Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyaluran Kredit Belum Optimal, Bank Daerah Perlu Inovasi

Bank daerah perlu lebih inovatif menciptakan produk pembiayaan yang menarik, termasuk kredit perumahan rakyat (KPR) maupun kredit multiguna.
Ni Putu Eka Wiratmini & M. Richard
Ni Putu Eka Wiratmini & M. Richard - Bisnis.com 06 Februari 2020  |  15:59 WIB
Ilustrasi - asbanda.com
Ilustrasi - asbanda.com

Bisnis.com, JAKARTA - Rasio penyaluran kredit bank daerah saat ini belum optimal, yang ditandai dengan rasio kredit terhadap simpanan sebesar 78,42 persen pada November 2019. Angka ini jauh dibandingkan dengan bank umum konvensional.

Meskipun demikian, capaian loan to deposit ratio (LDR) tersebut lebih tinggi daripada realisasi periode sama tahun lalu yang sebesar 77,86 persen.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dikeluarkan OJK, LDR bank daerah sempat mengalami angka cukup tinggi yakni pada 2015 dan 2016, masing-masing sebesar 92,19 persen dan 93,65 persen. Hanya saja, pada 2017 rasio LDR kembali menurun menjadi 87,62 persen.

Rasio LDR bank daerah masih kalah jauh dibandingkan dengan bank umum konvensional. LDR bank umum konvensional pada periode sama tercatat sebesar 93,5 persen.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan likuiditas bank daerah, yang relatif aman karena dibantu simpanan dana pemerintah, menjadikan kerja penyaluran kredit cenderung rendah. Pasalnya, bank daerah tidak perlu melakukan usaha berlebih untuk mencari dana pihak ketiga seperti bank umum.

"Rendahnya LDR juga dikarenakan bank daerah yang masih mengalami masalah untuk melakukan ekspansi kredit," katanya kepada Bisnis, Kamis (6/2/2020).

Menurutnya, bank daerah perlu lebih inovatif menciptakan produk pembiayaan yang menarik, termasuk kredit perumahan rakyat (KPR) maupun kredit multiguna. Kemudian, dari sisi sumber daya manusia juga perlu ditingkatkan kualitasnya, terutama di bagian penyaluran kredit.

"Terakhir kuncinya ada di kepemimpinan bank daerah yang lebih berani dan agresif masuk ke sektor-sektor baru," sebutnya.

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (Bank Jatim) sebelumnya menyebutkan akan mengoptimalkan likuiditas dan mendongkrak LDR ke posisi lebih tinggi.

Pjs Direktur Utama sekaligus Direktur Keuangan Bank Jatim Ferdian Satyagraha menyebutkan likuiditas beberapa tahun ini terhimpun cukup baik. Namun, sayangnya belum begitu dioptimalkan pada penyaluran kredit yang tinggi khususnya ke sektor produktif.

"Melihat pertumbuhan kredit yang baik tahun lalu, penyaluran kredit tahun ini juga akan kami optimalkan. LDR kami yang saat ini berada pada 63 persen, akan kami dongkrak lagi ke atas 70 persen," katanya.

Dia menyebutkan beberapa tahun terakhir, perseroan cukup fokus pembenahan rasio non-performing loan khususnya di sektor produktif yang cukup tinggi. Hal tersebut juga membuat perseroan menjadi sangat berhati-hati dalam penyaluran kredit.

Namun, sejak tahun lalu permasalahan tersebut terbilang sudah dapat teratasi. Kredit sektor komersial membukukan pertumbuhan yang cukup tinggi dengan kualitas yang baik.

Adapun, kredit perseroan pada 2019 tercatat Rp38,35 triliun, naik 13,16 persen secara tahunan. Kredit konsumer menjadi pendongkrak utama, yakni naik 27,11 persen menjadi Rp9,23 triliun. Kredit sindikasi bahkan naik 118,9 persen menjadi 2,7 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpd
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top