Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tekfin Jadi Pilihan saat Menghadapi Wabah Virus Corona

Financial technology lending dapat menjadi solusi bagi mereka yang ingin mendapatkan akses pendanaan tanpa perlu bertatap muka, sehingga bisa membantu perputaran roda perekonomian Indonesia di tengah krisis.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  10:36 WIB
Petugas Bank Indonesia (BI) Tegal mempraktekkan cara melakukan pembayaran melalui aplikasi uang elektronik
Petugas Bank Indonesia (BI) Tegal mempraktekkan cara melakukan pembayaran melalui aplikasi uang elektronik "server based", dompet elektronik dan mobile banking saat peluncuran dan implementasi QR Code Indonesian Standard (QRIS) untuk desa wisata di Pasar Slumpring, Desa Cempaka, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Minggu (16/2/2019). ANTARA FOTO - Oky Lukmansyah

Bisnis.com, JAKARTA — Industri layanan pinjaman uang berbasis teknologi finansial lending tetap optimistis menghadapi situasi merebaknya pandemi virus corona atau Covid-19.

Dengan kebijakan pemerintah agar masyarakat mengurangi interaksi secara sosial, tekfin lending optimis dapat menjadi solusi bagi mereka yang ingin mendapatkan akses pendanaan tanpa perlu bertatap muka, sehingga bisa membantu perputaran roda perekonomian Indonesia di tengah krisis.

Menurut Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, kondisi saat ini membuat masyarakat fokus ke beberapa sektor yang menopang antisipasi penyebaran virus corona saja, misalnya seperti industri makanan dan kesehatan.

Namun bukan berarti sektor lain seperti tekfin lending tidak dapat bertumbuh di situasi saat ini.

“Ada pilihan untuk fintech lending, namun perlu melihat situasi ketidakpastian seperti saat ini,” ujar Tauhid lewat keterangan resmi yang diterima Bisnis, Senin, (23/3).

Agar industri ini tetap melaju di tengah situasi ekonomi yang ikut tidak menentu ini, Tauhid mengatakan bahwa industri tekfin lending perlu segera mengambil langkah-langkah strategis supaya masyarakat tetap mendapatkan akses pembiayaan secara daring.

Adapun salah satu cara yang disebutkannya adalah menurunkan suku bunga yang dianggap dapat menarik perhatian publik.

“Di berbagai negara, suku bunga pinjaman di tengah situasi virus ini menjadi rendah sekali, bahkan sampai nol persen. Jika suku bunga tinggi, potensi NPL [non-performing loan] semakin meningkat. Ini bisa menjadi pukulan balik untuk industri lfintech lending,” katanya.

Dia juga menyarankan industri fintech lending melihat situasi ini sebagai kesempatan yang baik untuk memperkenalkan lagi industri yang masih baru di Indonesia.

Cara lainnya misalnya perusahaan dapat membuat fasilitas tambahan seperti mengadakan program diskon atau hal menarik lainnya.

Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah menjelaskan industri harus tetap optimistis di tengah kondisi pembatasan sosial karena isu virus corona saat ini.

Dia yakin tekfin lending memiliki sistem yang dibutuhkan masyarakat saat ini yakni proses  yang seluruhnya secara digital, dapat memproses pinjaman dengan cepat tanpa bertele-tele, dan yang terpenting adalah transparansi.

“Situasi saat ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi para penyelenggara tekfin lending. Untuk itu diperlukan inovasi produk serta layanan yang dapat mencakup kebutuhan masyarakat saat ini. Ini bukan cara yang mudah tapi perlu dilakukan agar industri terus berkembang di tengah situasi yang tidak menentu,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fintech Teknologi Finansial
Editor : David Eka Issetiabudi
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top