Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Nilai Restrukturisasi Kredit Makin Buncit, Bagaimana Efeknya ke Likuiditas Bank?

Jika masa pandemi Covid-19 berkepanjangan, restrukturisasi kredit korporasi diperkirakan akan semakin besar. Bagaimana efeknya terhadap likuiditas perbankan?
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 14 Mei 2020  |  06:01 WIB
Karyawan menjawab telepon di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (30/12/2019). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan menjawab telepon di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta, Senin (30/12/2019). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Jika masa pandemi Covid-19 berkepanjangan, restrukturisasi kredit korporasi diperkirakan akan semakin besar. Bagaimana efeknya terhadap likuiditas perbankan?

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, apabila pandemi Covid-19 berlanjut dalam jangka pendek yakni 3 sampai 4 bulan, kemungkinan hanya 25% korporasi yang membutuhkan restrukturisasi.

Namun, jika berlanjut semakin lama yakni 5 sampai 6 bulan, jumlahnya bisa meningkat menjadi 50% korporasi yang membutuhkan restrukturisasi. Meskipun demikian, perbankan dinilai tidak akan mengalami kesulitan atas kebijakan restrukturisasi tersebut.

Menurutnya, rencana prinsip penyangga likuiditas melalui bank jangkar yang menyalurkan bantuan pemerintah ke bank pelaksana, bisa mengantisipasi kesulitan likuiditas perbankan.

Apalagi, penerapan restrukturisasi justru ddilakukan untuk menolong likuiditas perbankan. Dengan menjalankan restrukturisasi, bank dapat terhindar dari masalah likuiditas yang lebih besar.

Memang, saat kondisi normal, bank bisa mendapatkan untung. Namun saat kondisi tidak normal terjadi, bank justru bisa merugi alih-alih dapat untung. Kebijakan restrukturisasi pun perlu dilakukan untuk meminimalisir kerugian.

"Restrukturisasi itu menyelamatkan bank dari kerugian, tetapi memang jangan dibandingkan dengan kondisi normal," katanya kepada Bisnis, Rabu (13/5/2020).

Saat ini restrukturisasi kredit yang dilakukan perbankan masih didominasi pada sektor UMKM.

Adapun Otoritas Jasa Keuangan mencatat hingga 10 Mei 2020 telah ada 3,88 juta debitur perbankan yang mendapatkan restrukturisasi dengan total baki debet mencapai Rp336,97 triliun.

Sebagian besar restrukturisasi kredit dilakukan diberikan pada debitur UMKM yang ada sebanyak 3,42 juta debitur dengan total baki debet mencapai Rp167,1 triliun.

Di tengah kebijakan relaksasi restrukturisasi tersebut, posisi rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tetap menunjukkan meningkat meskipun hanya terbatas. Pada posisi akhir 2019, rasio NPL gross berada pada kisaran 2,3% sedangkan pada kuartal I/2020, rasionya naik menjadi 2,7%. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top