Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Target Surplus Operasional BI 2020 Diproyeksi Tercapai Berkat 3 Faktor Ini

Salah satu dari tiga faktor tersebut, target surplus operasional pada tahun ini berpotensi untuk tercapai karena BI diperbolehkan untuk membeli surat berharga negara (SBN) pada pasar perdana.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  18:17 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Target surplus operasional Bank Indonesia (BI) pada Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2020 masih mungkin untuk dicapai tahun ini.

Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Alexander Sugandi mengatakan ada 3 faktor utama yang mendorong hal tersebut.

Pertama, target surplus operasional pada tahun ini berpotensi untuk tercapai karena BI diperbolehkan untuk membeli surat berharga negara (SBN) pada pasar perdana.

Hal ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya dimana BI hanya dapat membeli SBN pada pasar sekunder untuk stabilisasi nilai tukar.

Kedua, nilai tukar rupiah yang cenderung melemah tahun ini juga akan menyokong surplus operasional BI pada 2020 ini.

Ketiga, beban bunga giro wajib minimum (GWM) yang perlu ditanggung oleh Bank Indonesia pada tahun ini pun menurun karena relaksasi GWM yang dilakukan oleh BI sebagai respon atas pandemi Covid-19.

Pada tahun 2019 lalu, penghasilan BI nampak disokong oleh pendapatan bunga yang mencapai Rp48,75 triliun, pendapatan dari selisih kurs transaksi valas sebesar Rp21,4 triliun, dan pendapatan dari transaksi aset keuangan sebesar Rp18,7 triliun.

"Selisih kurs transaksi valas yang menurun ini agak unik karena jika rupiah melemah, maka valas milik BI jika dikonversi ke rupiah naik nominalnya," kata Eric, Rabu (27/5/2020).

Perlu dicatat, pendapatan BI dari selisih kurs transaksi valas pada 2018 lalu mencapai Rp49,81 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan 2019.

Menurut Eric, hal ini bisa jadi karena BI aktif melakukan intervensi untuk menjaga nilai tukar rupiah dengan menjual valas yang dimilikinya.

Seperti diketahui, BI mencatatkan surplus operasional setelah pajak sebesar Rp33,35 triliun pada 2019 lalu.

Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, surplus operasional setelah pajak BI tercatat lebih tinggi, mencapai Rp48,01 triliun. Pada ATBI 2020, BI menargetkan surplus operasional sebesar Rp20,85 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia surplus
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top