Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penurunan Bunga Deposito Bank Besar Diprediksi Berlanjut

Tren penurunan suku bunga deposito di bank-bank besar dinilai sejalan dengan pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 17 Juni 2020  |  20:14 WIB
Ilustrasi suku bunga deposito pada Januari 2016. - JIBI/Abdullah Azzam
Ilustrasi suku bunga deposito pada Januari 2016. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Suku bunga deposito bank-bank besar diproyeksikan masih akan mengalami tren penurunan selama penyaluran kredit tidak bergerak ekspansif.

Pengamat Perbankan dari Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto berpendapat tren penurunan suku bunga deposito di bank-bank besar sejalan dengan pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia.

Di samping itu, likuiditas bank saat pandemi Covid-19 ini cenderung meningkat karena penyaluran kredit yang mengalami perlambatan.

Doddy bahkan memproyeksikan penyaluran kredit bank tahun ini tidak akan sekencang tahun lalu. Jika tahun lalu bank bisa mencatat pertumbuhan kredit double digit, maka pada tahun ini pertumbuhan 5 persen menurutnya sudah sangat bagus.

"Jadi, kebutuhan likuiditas bank tidak besar, sehingga bank tidak membutuhkan DPK [dana pihak ketiga]," katanya kepada Bisnis, Rabu (19/6/2020).

Sementara di sisi lain bank juga dihadapkan pada penurunan pendapatan akibat restrukturisasi kredit dalam jumlah yang besar.

"Bagi bebrapa bank yang memiliki bargaining power dengan nasabah, bank mengambil momen ini untuk me-maintain NIM [net interest margin/margin bunga bersih] untuk menyeimbangkan beban dan kerugian akibat restrukturisasi," jelas Doddy.

Doddy mengatakan tren penurunan suku bunga deposito di bank-bank besar masih akan terus berlanjut. Meski demikian, dia menilai potensi perpindahan dana dari deposito ke instrumen investasi lainnya tidaklah besar.

Pasalnya, di kondisi pandemi Covid-19, bunga yang ditawarkan oleh instrumen investasi lain, obligasi misalnya, juga tidak terlalu tinggi menurutnya, termasuk obligasi pemerintah.

Di samping itu, masyarakat Indonesia masih memandang deposito sebagai produk investasi. Karakteristik masyarakat Indonesia cenderung menuntut real yield atau bunga di atas tingkat inflasi.

"Kalau bank yang ekses likuiditas mungkin berani nge-push [menurunkan suku bunga deposito jauh lebih rendah], tetapi tidak akan di bawah tingkat inflasi," jelas Doddy.

Salah satu bank besar, PT Bank Central Asia Tbk., kembali memangkas suku bunga simpanan hingga menyentuh level 3,95 persen.

Sementara itu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan langkah penurunan suku bunga deposito dilakukan perseroan untuk mengantisipasi suku bunga acuan Bank Indonesia yang diperkirakan akan kembali turun.

"Kami antisipasi suku bunga BI yang bisa turun. Penurunan bunga deposito bukan mendadak dilakukan, sebelumnya 4 persen menjadi 3,95 persen. Penurunannya masih sangat sedikit," kata Jahja kepada Bisnis, Rabu (17/6/2020).

Berdasarkan laporan presentasi perseroan, suku bunga deposito BCA Per Mei 2020 tercatat pada level 4 persen. Namun sebelumnya, pada Desember 2019, suku bunga deposito BCA masih bertengger di level 4,5 persen.

Jahja juga menjelaskan penurunan bunga deposito tersebut karena perseroan berupaya menekan biaya bunga (cost of fund) yang harus dibayarkan bank kepada deposan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan deposito suku bunga deposito
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top