Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank Mandiri Proyeksi Restrukturisasi Kredit Capai Rp160 Triliun Akhir 2020

Hery memperkirakan restrukturisasi kredit Bank Mandiri akan mencapai sekitar Rp150 triliun-Rp160 triliun pada akhir 2020. Namun, setelah itu selesai, perseroan menilai tidak ada lagi jumlah signifikan kredit yang perlu direstrukturisasi.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 31 Agustus 2020  |  12:21 WIB
Gedung Bank Mandiri - Istimewa
Gedung Bank Mandiri - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. memperkirakan sebagian dari debitur yang sudah mendapatkan restrukturisasi kredit pada 2020 akan berhasil bangkit saat relaksasi tersebut berakhir dan sebagian lainnya akan memerlukan tambahan relaksasi atau bantuan.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan, saat relaksasi POJK 11/2020 berakhir pada Maret 2021, tidak menutup kemungkinan perseroan akan kembali memberikan restrukturisasi yang disesuaikan dengan kondisi dari masing-masing debitur. Hingga saat ini restrukturisasi kredit di Bank Mandiri masih berlangsung.

Hery memperkirakan restrukturisasi kredit Bank Mandiri akan mencapai sekitar Rp150 triliun-Rp160 triliun pada akhir 2020. Namun, setelah itu selesai, perseroan menilai tidak ada lagi jumlah signifikan kredit yang perlu direstrukturisasi.

Sampai dengan 13 Agustus 2020, Bank Mandiri telah memberikan restrukturisasi kredit kepada lebih dari 545.000 debitur dengan nilai baki debet kredit Rp119,3 triliun atau 15,8% dari total portofolio perseroan pada Juni. Dari total debitur yang direstrukturisasi, sebanyak 324.000 debitur atau 34% di antaranya merupakan segmen UMKM dengan nilai baki debet senilai Rp32,6 triliun.

"Namun demikian, bank tetap mendukung rencana regulator untuk memperpanjang program restrukturisasi kredit sebagaimana diamanatkan POJK 11/2020. Pada saat hal itu terjadi, tidak menutup kemungkinan perseroan akan kemabli memberikan restrukturisasi, yang disesuaikan dengan kondisi dari masing-masing debitur," katanya, Senin (31/8/2020).

Selain mendukung restrukturisasi, Bank juga mendorong pertumbuhan melalui penyaluran kredit yang selektif di tengah pandemi Covid-19. Hingga 13 Agustus 2020, Bank Mandiri telah menyalurkan PEN senilai Rp26,9 triliun atau sebesar 88% dari target perseroan Rp30 triliun yang menyasar pada sektor riil padat karya untuk mendorong penyerapan tenaga kerja.

Realisasi ini juga melampaui alokasi PEN yang diamanahkan kepada perseroan. Dalam program PEN, perseroan mendapatkan alokasi penyaluran dari pemerintah senilai Rp10 triliun pada akhir Juni. Kemudian, perseroan juga menyiapkan dana pendamping dari internal perusahaan senilai Rp27 triliun sebagai bentuk komitmen kepada pemerintah untuk meleverage amanah penyaluran tersebut hingga menjadi tiga kali lipat.

Selain kepada nasabah baru, penyaluran PEN juga didistribusikan kepada nasabah lama perseroan. Di antara nasabah-nasabah baru yang memperoleh dana PEN tersebut sebagian besar berasal dari segmen mikro, dengan sektor bisnis di bidang perdagangan. Bahkan ada arahan juga untuk menyalurkan PEN kepada nasabah-nasabah yang sudah memperoleh relaksasi kredit atau restrukturisasi sebagai tambahan modal kerja bagi mereka.

"Yang terpenting adalah nasabah yang mendapatkan penyaluran tersebut bersifat produktif dan padat karya. Mengenai hal ini, tidak ada larangan untuk menyalurkan PEN kepada nasabah existing maupun nasabah baru," sebutnya.

Selama masa pandemi, lanjut Hery, Bank Mandiri juga melakukan efisiensi biaya. Di Bank Mandiri, biaya operasional secara kuartalan menurun sebesar 8,7%.
Perseroan juga meningkatkan akselerasi digital banking untuk menjaga kinerja.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan pengguna aktif Mandiri Online. Sampai dengan Juni 2020, pengguna aktif aplikasi tersebut mencapai 3,8 juta nasabah dengan jumlah transaksi mengalami pertumbuhan 43% dibandingkan periode sama tahun lalu (year on year/yoy).

Menurutnya, layanan digital banking dapat memenuhi kebutuhan nasabah yang tidak dapat datang langsung ke cabang, terutama di tengah penerapan social distancing dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna menekan penyebaran pandemi.

Sampai dengan kuartal II/2020, ketika sejumlah bank mulai menunjukkan dampak pandemi Covid-19, Bank Mandiri masih membukukan pertumbuhan kinerja. Total aset perusahan bertumbuh 7,54% yoy menjadi Rp208,0 triliun. Total dana pihak ketiga tumbuh 17,99% yoy menjadi Rp123,1 triliun. Total pendapatan tumbuh sebesar 3,5% yoy  mencapai Rp13,9 triliun.

Total kredit secara konsiderasi juga masih bertumbuh 4,38%, yakni mencapai Rp871,7 triliun. Pertumbuhan kinerja perseroan didukung oleh pondasi keuangan yang kuat dengan pencapaian FLR mencapai 85,7% dan CAR di level 19,20%.

"Berbagai inisiatif layanan yang dilakukan oleh perseroan diharapkan dapat membantu UMKM melewati krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19 dan memperkuat peran UMKM sebagai salah satu pilar ekonomi Indonesia," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit bank mandiri restrukturisasi utang
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top