Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perusahaan Konvensional Berlomba Danai Startup, Ini Alasannya

Bagi para perusahaan ini, mendanai startup bukan hanya memberikan keuntungan dari segi margin keuntungan pembiayaan, tetapi juga demi modal pengembangan produk digital baru di kemudian hari.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 11 September 2020  |  18:33 WIB
Ilustrasi startup -
Ilustrasi startup -

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan terbuka yang gencar menjalin sinergi dan memberikan pendanaan kepada perusahaan rintisan atau startup karena mengincar setidaknya dua hal.

Victoria Venny, Analis MNC Sekuritas menjelaskan bahwa hal ini mereka lakukan karena pertama, perusahaan konvensional tengah mencari alternatif pendapatan lainnya dari non-core bisnis mereka.

Kedua, startup punya valuasi yang berbeda dengan valuasi perusahaan mapan, yang bisa dilihat dari gedung, mesin, atau tanah. Valuasi startup dapat dilihat dari jumlah pengguna dan database konsumen yang mengakses perusahaan rintisan tersebut.

"Karena yang berharga dari perusahaan adalah database konsumen, maka saat ini banyak perusahaan jasa maupun nonjasa melakukan transformasi dalam mengembangkan bisnisnya dengan berinvestasi di perusahaan rintisan," jelas Venny, Jumat (11/9/2020).

Venny mengungkap bahwa bagi para perusahaan ini, mendanai startup bukan hanya memberikan keuntungan dari segi margin keuntungan pembiayaan, tetapi juga demi modal pengembangan produk digital baru di kemudian hari.

"Karena perusahaan konvensional saat ini perlu mengembangkan layanan baru melalui teknologi digital yang bertujuan untuk mencari revenue stream baru untuk menggantikan revenue dari legacy yang sudah melambat pertumbuhannya," tambah analis saham ini.

Pandemi Covid-19 memang menyebabkan tekanan di hampir semua lini bisnis, tak terkecuali startup. Meski demikian, menurut Venny, beberapa startup justru cukup resilience meski pandemi Covid-19 masih terjadi.

Khususnya startup yang bergerak di sektor pendidikan, kesehatan, dan ritel makanan, "Namun, jika investor ingin masuk ke perusahaan rintisan, kami harus melihat valuasinya terlebih dahulu. Apakah valuasinya mahal atau murah,” tambah Venny.

Seperti diketahui, saat ini beberapa perusahaan konvensional sudah berinvestasi di perusahaan rintisan. PT Astra International Tbk. misalnya, bersama dengan modal ventura, EverHaus, mereka sudah berinvestasi di bisnis logistik melalui Trukita. Bahkan Astra juga sudah berinvestasi di Gojek sebanyak dua kali.
 
Contoh lainnya adalah PT. Telkom Tbk. BUMN telekomunikasi ini sudah memiliki beberapa perusahaan rintisan yang menjadi mitra binaan mereka, di antaranya Qlue, Kredivo, PrivyID, Nodeflux, Kata.ai, eFishery, ChatAja, hingga Anchanto.
 
Sementara itu BRI melalui BRI Ventures, Program Dana Ventura Sembrani Nusantar ini melakukan investasi di perusahaan rintisan.

Pendanaan akan difokuskan untuk seed-growth stage yang terdiri dari seed funding dan pendanaan awal Seri A (Series A). Dengan dana Rp 300 miliar, Dana Ventura Sembrani Nusantar akan mencari perusahaan 10-15 startup di early stage pada sektor finansial, pendidikan, agro maritim, ritel, transportasi, dan kesehatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten StartUp
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top