Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Merger BCA Syariah & Bank Interim, Bos BCA: Tidak Dimutilasi, Hanya Penggabungan Biasa

Proses merger BCA Syariah dan Bank Interim diharapkan rampung pada tahun ini
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  13:56 WIB
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja saat paparan kinerja kuartal I/2020 secara live, Rabu (27/5 - 2020). Dokumen BCA.
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja saat paparan kinerja kuartal I/2020 secara live, Rabu (27/5 - 2020). Dokumen BCA.

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Central Asia Tbk. menyatakan proses merger BCA Syariah dengan PT Bank Interim Indonesia sebagai proses penggabungan biasa.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan proses merger kedua bank tersebut merupakan penggabungan yang sederhana. BCA pun menegaskan tidak melakukan mutilasi pada Bank Interim Indonesia dengan mengambil teknologi maupun staf-staf untuk dipindahkan ke anak usaha BCA lainnya yakni Bank Royal.

"Tidak dimutilasi, hanya simple merger, penggabungan dua entitas," katanya kepada Bisnis, Senin (12/10/2020) malam.

Jahja pun menilai Bank Interim juga tidak memiliki teknologi yang cukup advance. Begitu juga, sebelum merger dilakukan, staf-staf Bank Interim telah lebih dulu dirumahkan oleh pemilik sebelumnya.

"Bank Interim enggak advance teknologi juga, orang-orangnya kalau tidak salah dirumahkan oleh Rabo[Rabobank; nama Bank Interim sebelumnya]," sebutnya.

Presiden Direktur BCA Syariah John Kosasih mengatakan proses merger diharapkan rampung pada tahun ini. BCA Syariah pun memproyeksi pertumbuhan dana pohak ketiga (DPK) dan pembiayaan setelah merger dengan PT Bank Interim Indonesia dirampungkan pada tahun ini masih sebesar 5 sampai dengan 7 persen.

Menurutnya, proyeksi tersebut masih bersifat sementara. Apalagi, nasabah lama di Bank Interim akan menjadi prospek bagi BCA Syariah setelah merger dirampungkan.

"Kami upayakan merger selesai akhir tahun ini, proyeksi pertumbuhan DPK dan pembiayaan diproyeksikan sekitar 5 sampai dengan 7 persen," katanya kepada Bisnis, Senin (12/10/2020).

Menurutnya, hal signifikan yang akan dirasa setelah merger adalah adanya perubahan pada sisi modal.

Merujuk pada prospektus penggabungan, modal disetor BCA Syariah adalah senilai Rp1,996 triliun per akhir 2019. Sementara itu, modal saham ditempatkan dan disetor penuh senilai Rp1,856 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bca merger rabobank BCA Syariah
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top