Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sudah Mulai! Inisiatif Mata Uang Digital Bank Sentral. Apa Itu?

Sejumlah bank sentral telah meluncurkan proyek percontohan mengenai cara membentuk uang tunai dalam bentuk digital atau yang disebut dengan central bank digital currencies (CBDC).
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  20:43 WIB
Yuan - Bloomberg
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA -- Tren pembayaran digital yang meningkat selama pandemi membuat bank sentral mempertimbangkan adanya ancaman jangka panjang terhadap uang kertas yang selama ini mereka suplai.

Berdasarkan laporan Moody's Investors service, sejumlah bank sentral telah meluncurkan proyek percontohan mengenai cara membentuk uang tunai dalam bentuk digital atau yang disebut dengan central bank digital currencies (CBDC). Apalagi, di beberapa negara, penggunaan uang tunai telah menurun selama beberapa tahun, contohnya, Swedia.

Bahkan, bank sentral negara tersebut telah mengatakan kekhawatirannya akan uang tunai yang kehilangan penerimaan. Kondisi ini dapat menimbulkan konsekuensi sosial yang berbahaya bagi segmen populasi yang sampai saat ini bergantung pada mata uang bank sentral untuk pembayaran.

Adapun sejumlah negara yang telah meluncurkan Inisiatif CBDC adalah China, Swedia, United Kingdom, dan kawasan Euro. Kedatangan Libra adalah contoh dari inovasi teknologi sektor swasta yang mendorong inisiatif bank sentral tersebut. Libra, diusulkan oleh grup media sosial Amerika Serikat, Facebook Inc. pada 2019 dan dimodifikasi tahun ini.

Libra bertujuan untuk membuat mata uang digital pribadi berbasis blockchain dalam bentuk "stablecoin". Libra memvisualisasi uang internet, di mana uang dapat dipindahkan dengan aman dan terjamin ke seluruh dunia semudah dan semurah pesan atau foto saat ini.

Inisatif proposal dari CBDC memiliki motivasi yang berbeda-beda tetapi secara umum memiliki tujuan untuk menyediakan sistem pembayaran yang murah dan efisien sebagai pengganti uang tunai, menjaga atau meningkatkan inklusi keuangan, dan menjaga peran uang publik di masyarakat.

CBDC mungkin juga menarik bagi bank sentral di era suku bunga negatif. Pasalnya, uang kertas dan koin tidak memiliki bunga dan selalu memiliki nilai nominal yang sama (kecuali devaluasi melalui redenominasi).

Kondisi ini membuat, di saat suku bunga positif, uang tunai tidak akan pernah memiliki pengembalian yang lebih besar daripada uang elektronik di bank komersial (dan biasanya lebih rendah) sehingga menjadikannya tidak menarik sebagai penyimpan nilai.

CBDC pada prinsipnya dapat mengakhiri anomali ini dengan mengenakan tingkat bunga yang dapat diprogram selaras dengan kebijakan resmi. Namun, selama kas fisik terus ada, suku bunga apa pun, positif atau negatif, akan melanggar gagasan bahwa CBDC harus secara ekonomi setara dengan uang kertas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uang moody's mata uang digital
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top