Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penyaluran Masih Minus, Bos BI Terus Minta Perbankan Pangkas Bunga Kredit

Bank Sentral telah menurunkan suku bunga acuan secara agresif sejak tahun lalu, yakni sebanyak 150 basis poin ke level 3,50 persen.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Selasa (14/4/2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Selasa (14/4/2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia masih berharap perbankan menurunkan suku bunga untuk menstimulasi permintaan kredit lebih kuat.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan Bank Sentral telah menurunkan suku bunga acuan secara agresif sejak tahun lalu, yakni sebanyak 150 basis poin ke level 3,50 persen. Perbankan bahkan telah menikmati instentif tersebut dengan memperlebar margin melalui penurunan suku bunga dana masyarakat.

Suku bunga pasar uang antar bank over night telah berada pada 2,96 persen per Februari 2021 dan suku bunga deposito sudah turun 189 basis poin ke 4,06 persen secara tahunan pada Januari 2021.

"Namun, suku bunga kredit hingga Januari 2021 masih terbatas, hanya 75 bps ke 9,72 persen," sebutnya usai RDG BI, Kamis (18/3/2021).

Perry melanjutkan margin yang perbankan nikmati saat ini cukup besar. Bahkan data BI mencatat margin perbankan telah naik ke posisi 6,28 persen pada Januari 2021.

"Ini karena suku bunga deposito turun lebih cepat dalam respons suku bunga acuan," sebutnya.

Perry menuturkan bank milik pemerintah tercatat masih memiliki margin terbesar di antara kelompok bank lain.

Per Januari 2021, suku bunga dasar kredit bank pelat merah tercatat 10,80 persen, sedangkan bank daerah berada pada 9,79 persen. Adapun, bank swasta memiliki SBDK di kisaran 9,46 persen dan bank asing 6,58 persen.

"Namun demikian, SBDK Bank BUMN akan terus menurun pada Maret 2021, dengan diumumkannya SBDK baru. Kami pun terus mengharapkan bank-bank lain juga terus mempecepat penurunan suku bunga kreditnya."

Adapun, di tengah kondisi likuiditas yang longgar, Perry menyebutkan fungsi intermediasi sektor keuangan belum kuat. Ini tercermin dari kontraksi kredit pada Februari 2021 sebesar 2,15 persen (yoy) dibandingkan dengan kontraksi 1,92 persen (yoy) pada Januari 2021.

Sehubungan dengan itu, berbagai langkah penguatan terus dilakukan sejalan dengan sinergi kebijakan KSSK, perbankan, dan dunia usaha untuk menjaga optimisme dan mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam penyaluran kredit/pembiayaan dari perbankan kepada dunia usaha, dalam rangka mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Dalam kaitan ini, lanjut Perry, BI terus menempuh kebijakan makroprudensial akomodatif termasuk kebijakan Uang Muka Kredit/Pembiayaan Kendaraan Bermotor dan Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) Kredit/Pembiayaan Properti yang telah diumumkan.

"Bank Indonesia juga akan mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan kepada dunia usaha dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan melalui perluasan komponen pembiayaan dan reaktivasi Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM/RIM Syariah) secara bertahap," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : M. Richard
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper