Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tak Semua Sukses, Ini Cerita Bank Digital Gagal di Luar Negeri

Tidak semua neobank di dunia mengalami keberhasilan, ada pula yang gagal dan harus mengembalikan lisensinya.
Mobile banking/istimewa
Mobile banking/istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia Fintech Society (IFSoc) menyatakan bahwa tak semua neobank atau bank digital dapat berhasil tumbuh di setiap negara.

Steering Committee IFSoc Rudiantara mengatakan bahwa digitalisasi layanan perbankan merupakan keniscayaan. Saat ini, sejumlah bank konvensional mulai bergegas menuju model operasi berbasis digital.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan 85 persen hingga 95 persen transaksi keuangan di bank BUKU III dan IV telah dilakukan secara digital dan di luar kantor bank.

Rudiantara juga menyoroti sentimen positif dari neobank yang tercermin dari nilai kapitalisasi bank digital di dunia. Semisal, Kakao Bank di Korea Selatan, yang memiliki kapitalisasi pasar mencapai 33,16 triliun won atau setara US$28,3 miliar.

Namun, Rudiantara juga mengingatkan bahwa tidak semua neobank di dunia mengalami keberhasilan. Di Australia, neobank bernama Xinja hanya bertahan tiga tahun dan mengembalikan lisensi perbankan pada 2021 setelah gagal mendapatkan modal tambahan.

“Pelajaran yang bisa kita petik, Xinja tidak mampu bersaing dengan bank konvensional karena tidak memiliki program pengajuan pinjaman dan program yang fokus kepada UMKM. Pada intinya neobank juga harus dapat menghasilkan revenue dan efisiensi biaya,” ujarnya dalam webinar terkait dengan neobank, dikutip pada Jumat (15/10/2021).

Bank digital lain yang kurang berhasil adalah N26 dari Jerman. Kendati mampu melakukan ekspansi di enam negara Eropa, Amerika Serikat (AS), dan Brazil, N26 harus menutup operasinya di Inggris pada 2020 karena lisensinya tidak dapat digunakan setelah Brexit.

Selain itu, N26 juga tidak dapat menarik banyak peminat di Inggris. Setelah dua tahun beroperasi, neobank tersebut hanya memiliki 418.000 pengguna aktif bulanan.

Ketua IFSoc Mirza Adityaswara menyatakan kemunculan bank digital membawa berbagai manfaat, sekaligus risiko baru. Pada satu sisi, bank digital memiliki fitur-fitur inovatif, tetapi rentan mendapatkan serangan keamanan siber.

Menurutnya, risiko-risiko tersebut juga dialami oleh perusahaan teknologi finansial atau tekfin, meski otoritas telah mengatur platform penyedia jasa keuangan supaya memitigasi kemungkinan risiko yang hadir.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), Jahja Setiaatmadja, sempat menyatakan ketatnya persaingan di industri perbankan nasional saat ini diperkirakan hanya menyisakan 1 atau 3 bank digital yang dapat bertahan dalam satu dekade ke depan.

Jahja berpendapat ada sejumlah syarat bagi bank digital untuk bertahan di tengah ketatnya persaingan. Salah satunya adalah mempunyai nasabah yang aktif. Ini menjadi penting karena profitabilitas datang dari jumlah transaksi, bukan nominal pengguna.

Selain itu, lanjutnya, sederet promo yang ditawarkan bank digital tidak cukup mampu membuat para nasabah loyal. Oleh sebab itu, neobank dituntut untuk berkolaborasi guna memenangkan persaingan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper