Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

LPEI Ungkap Kisah UKM Sukses Ekspor Peti Mati Ramah Lingkungan

Produk peti mati hijau alias green coffin bahkan telah diminati pasar Eropa hingga Amerika Serikat, alias negara-negara dengan kesadaran terhadap lingkungan yang relatif sudah tinggi.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 16 Januari 2022  |  20:59 WIB
Indonesia Eximbank - Bisnis
Indonesia Eximbank - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan pembiayaan khusus pelat merah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) alias Indonesia Eximbank melihat potensi ekspor peti mati hijau alias green coffin dari para pengrajin Tanah Air.

Corporate Secretary LPEI Chesna F Anwar mencontohkan sejak tahun 2017 pihaknya mendampingi para pengrajin melalui Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Indonesia (APIKRI), dan di antara para pengrajin sudah ada yang menembus pasar ekspor sejak 2019.

"Ekspor perdana ke Belanda di tahun 2019 nilainya sekitar Rp150 juta, lalu disusul ekspor ke Amerika Serikat. Sekarang ini, jika dihitung rata-rata per bulan di ekspor 3 kontainer senilai Rp450 juta, maka dalam setahun ekspornya mencapai lebih dari Rp5 miliar," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (6/1/2022).

Sebagai contoh, Purwanto (42) merupakan pengrajin peti jenazah hijau yang tergabung dalam APIKRI. Peti buatannya dibuat dari bahan ramah lingkungan, mulai dari rotan, eceng gondok, mendong, rami, pelepah pisang, dan aneka bahan alam lain yang ramah
lingkungan.

Produk green coffin Purwanto yang bertajuk Eco Green ini bahkan telah diminati pasar Eropa hingga Amerika Serikat, alias negara-negara dengan kesadaran terhadap lingkungan yang relatif sudah tinggi. Kayu-kayu sebagai rangka penguat peti menggunakan kayu yang sudah memiliki sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu, sebagai syarat untuk bisa masuk ke pasar Eropa.

Dari bisnis ini, Purwanto bisa mempekerjakan kurang lebih 100 orang di pabriknya, berlokasi di Desa Trangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah.

"Saya memulai bisnis ini pada tahun 2002. Permintaannya terus naik dari tahun ke tahun. Apalagi setelah kami mendapat pendampingan dan pembinaan, juga dibantu mencari pasar dan permodalan," ujarnya.

Melalui APIKRI, tiap bulan setidaknya 3 kontainer berisi peti mati dikirim ke luar negeri. Tiap kontainer bisa memuat 80 peti, sehingga tiap bulan setidaknya terjual 240 buah peti.

APIKRI tidak hanya menampung produksi peti buatan Purwanto. Sebagai asosiasi pengrajin, APIKRI juga menjadi penampung produk sejenis buatan produsen seperti Purwanto. Dari bisnis ini, setidaknya sudah ada 3 klaster usaha di Kabupaten Gunung Kidul, Bantul dan Kulon Progo.

Ketua APIKRI Kemiskidi mengatakan fenomena yang menggembirakan dari kemampuan ekspor para anggota, yaitu adanya pekerja langsung yang terserap dari bisnis terkait pun ikut meningkat.

Mulai dari pengumpul eceng gondok, pelepah pisang, sampai dengan tukang pembuatnya mendapatkan berkah manisnya permintaan ekspor green coffin.

Chesna menambahkan bahwa LPEI menilai bisnis ini memiliki prospek menjanjikan, apalagi pasar luar negeri mencari produk ramah lingkungan, seiring kebutuhan mereka memikirkan persiapan ketika kelak menutup usia.

LPEI pun berkomitmen membukakan pasar yang lebih luas bagi pengrajin, termasuk menyediakan permodalan untuk pengembangan usaha ini.

"LPEI memiliki mandat dari pemerintah untuk mendorong ekspor. Jadi, kami sangat serius membantu para pengrajin melalui asosiasi. Kami optimis produk yang unik ini punya pasar yang sangat besar di luar negeri," pungkasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor lpei
Editor : Azizah Nur Alfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top