Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rasio Kecukupan Modal BRI (BBRI) Lebih Rendah dari Industri, Ini Penjelasannya

Dirut BRI Sunarso mengatakan bahwa dari sisi kinerja penyaluran kredit, BRI tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri. Sepanjang 2021 pertumbuhan kredit bank sebesar 7,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan industri 5,2 persen yoy. 
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 30 Maret 2022  |  20:46 WIB
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) Sunarso.  - Istimewa
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) Sunarso. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) per Desember 2021 memiliki rasio kecukupan modal rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) lebih rendah dari industri, yakni 25,28 persen. Sementara itu pada periode yang sama industri  perbankan melaporkan CAR pada level 25,67 persen. 

Direktur Utama BRI Sunarso menjelaskan rasio kecukupan modal bukan satu-satunya indikator kemampuan bank menjalankan bisnis. “Mana yang lebih baik? tergantung. Modal besar dan tinggi jika tidak digunakan untuk menyalurkan kredit buat apa?” kata Sunarso saat Rapat Dengar Pendapat dengan DPR, Rabu (30/3/2022). 

Dia mengatakan modal besar yang dibukukan BRI, karena perusahaan belum lama ini melakukan rights issue dan berhasil menghimpun dana investor publik hingga Rp41 triliun. CAR yang dimiliki oleh BRI, kata Sunarso, cukup untuk tumbuh 3 tahun ke depan. 

Sunarso melanjutkan bahwa dari sisi kinerja penyaluran kredit, BRI tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri. Sepanjang 2021 pertumbuhan kredit bank sebesar 7,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan industri 5,2 persen yoy. 

Pertumbuhan kredit di sektor mikro menjadi kontributor terbesar dengan, di mana nilainya naik 13 persen yoy. . 

Selain itu, dari sisi margin bunga bersih (net interest margin/NIM), kata Sunarso, BRI juga lebih baik dibandingkan dengan industri. BRI membukukan NIM sebesar 6,89 persen, sedangkan industri 4,51 persen. 

Sunarso mengatakan pertumbuhan kredit tersebut berimbas pada posisi kredit bermasalah BRI (non-performing loan?NPL) perusahaan yang juga lebih besar dari industri. Rasio NPL BRI per Desember 2021 3,08 persen, sedangkan rata-rata bank umum lain 3 persen. 

Dia berpendapat rendahnya NPL industri kemungkinan karena bank berhati-hati dalam menyalurkan kredit, agar NPL mereka tetap rendah.  “Kalau kami harus tetap kasih kredit karena andalan kami di UMKM,” kata Sunarso. 

Adapun untuk rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to Deposits Ratio/LDR), BRI membukukan 83,7 persen. Sunarso mengatakan jumlah tersebut masih kurang ideal tetapi sudah di atas rata-rata LDR industri yang sekitar 77,1 persen.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan bri bbri
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top