Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sektor Jasa Keuangan Stabil, Bos OJK Imbau Agar Tetap Waspada

Wimboh menjelaskan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 basis poin (bps) tidak boleh dianggap hal sepele.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 07 Juli 2022  |  22:16 WIB
Sektor Jasa Keuangan Stabil, Bos OJK Imbau Agar Tetap Waspada
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan sambutan saat pertemuan tatap muka dengan pimpinan di sektor jasa keuangam di Jakarta, Kamis (7/7/2022). ANTARA FOTO - Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan memastikan di tengah meningkatnya risiko stagflasi, sektor keuangann terpantau stabil.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyampaikan mesko kondisi sektor jasa keuangan terpantau stabil namun seluruh pihak tetap diminta waspada mengingat adanya dampak ketidakpastian ekonomi global, terutama konflik antara Rusia dan Ukraina yang masih bergulir.

“Kita juga tidak tahu kapan akan konflik politik Rusia dan Ukraina akan selesai. Ini harus kita waspadai dan tetap kita harus stay alert mengenai hal ini,” kata Wimboh dalam acara bertajuk Tatap Muka dengan Direktur Utama di Sektor Jasa Keuangan terkait Penerapan Market Conduct, Kamis (7/7/2022).

Dalam kesempatan itu, Wimboh menyampaikan bahwa normalisasi kebijakan negara maju menjadi episode yang tidak bisa Indonesia hindari, yakni konflik antara Ukraina dan Rusia. Pasalnyak konflik ini memicu inflasi memicu berbagai hal yang membuat inflasi menjadi tertekan dan global supply change menjadi terganggu yang kemudian berimbas ke Indonesia.

Wimboh menjelaskan bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 basis poin (bps) tidak boleh dianggap hal biasa. Sebab, terkereknya suku bunga acuan tersebut belum pernah terjadi dalam 24 tahun terakhir.

Belum pernah dalam 24 tahun terakhir, The Fed menaikkan 75 basis poin. Imbasnya pasti ada capital reverse dari emerging market, tidak terkecuali Indonesia. Ini sudah kita prediksikan, sehingga hyperinflation terjadi di mana-mana karena kelangkaan komoditi dan juga energi,” ujarnya.

Dia mengungkapkan suplai energi yang terbatas terjadi di sejumlah negara, seperti Turki yang mengalami inflasi sebesar 78,6 persen dan inflasi Argentina yang sudah mencapai 58 persen, termasuk juga Indonesia. Wimboh mengungkapkan meskipun Indonesia mengalami kenaikan, namun tidak seperti negara-negara lain, tercatat inflasi terakhir per Juni sudah mencapai 4,35 persen.

Ini tentunya tidak boleh kita anggap enteng, sehingga seluruh pemangku kepentingan tidak terkecuali OJK, harus mendesain kebijakan-kebijakan. Kita juga berkoordinasi dengan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan dalam mendesain berbagai kebijakan,” katanya.

Di samping itu, harga saham yang semula menyentuh level tertinggi, yakni 7.276 kembali mengalami terkoreksi menjadi level 6.646 per 6 Juli 2022. Kendati demikian, dia menjelaskan harga saham tidak ada masalah, sebab itu merupakan hal yang rutin.

Dari sisi perbankan, Wimboh menyampaikan kredit perbankan sudah tumbuh 9,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 4,23 persen secara year-to-date (ytd). Bahkan, angka terakhir kemarin kami dapat laporan sudah di atas 5 persen,” sambungnya.

Untuk itu, OJK tetap mengingatkan bahwa kondisi ekonomi terakhir akan bisa memberikan sentimen yang negatif bahkan terhadap pertumbuhan kredit ini. Adapun dari sisi permodalan, likuiditas perbankan masih terjaga dengan baik.

Kemudian, di sisi industri keuangan nonbank, premi asuransi tumbuh 15,12 persen yoy. Premi asuransi jiwa mencatatkan pertumbuhan, meskipun masih negatif tapi sudah lebih kecil, yakni -4,11 persen yoy. Adapun, piutang pembiayaan tercatat sebesar Rp379 triliun dengan pertumbuhan sebesar 4,5 persen yoy per Mei 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

OJK
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top