Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Profil Ahmad Irfan, Mantan Dirut BJB Kini Nahkoda Bank Bengkulu

Simak profil Ahmad Irfan. Nahkoda atau Dirut Bank Bengkulu yang sebelumnya mantan Dirut BJB (Bank Jabar Banten).
Direktur Utama Bank Bengkulu Ahmad Irfan yang sebelumnya menjabat sebagai Dirut Bank Jabar Banten./JIBI-Abdullah Azzam
Direktur Utama Bank Bengkulu Ahmad Irfan yang sebelumnya menjabat sebagai Dirut Bank Jabar Banten./JIBI-Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pemegang saham PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu atau Bank Bengkulu telah menunjuk Ahmad Irfan sebagai Direktur Utama perseroan yang baru. Lantas, apa jabatan Ahmad Irfan sebelumnya?

Dilansir dari berbagai sumber, Ahmad Irfan sempat menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. atau Bank BJB (BJBR) periode 2014 -2018. Ahmad Irfan melakukan banyak terobosan selama di Bank BJB hingga membawa Bank BJB menjadi salah satu Bank Pembangunan Daerah terbesar di Indonesia.

Pria kelahiran Palembang, 18 Desember 1963 itu, mengawali karirnya di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) pada 1993. Pada 1999, Bapindo dilebur bersama dengan tiga bank lainnya membentuk PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sejak saat itu atau pada 1999 Irfan bekerja di Bank Mandiri menjadi Assistant Vice President.

Kemudian pada 2013, Ahmad Irfan pindah ke Bank BJB dan menjabat sebagai Pemimpin Divisi Korporasi dan Komersial Bank BJB. Pada 1 Juli 2014, Irfan diangkat sebagai Direktur Komersial Bank. Irfan hanya sebentar berada di posisi itu karena pada 19 Desember 2014 Ahmad Irfan diangkat menjadi Direktur Utama Bank BJB hingga Desember 2019.

Ahmad Irfan sempat mengenyam pendidikan di Universitas Sriwijaya pada 1988 dan mengambil gelar magister di STIE Jakarta pada 1998 atau 10 tahun kemudian. Setelah itu, pada 2017 Ahmad Irfan mengambil gelar doktornya di Universitas Padjadjaran.

Saat pelantikan, dia mengatakan bahwa Bank Bengkulu harus dapat melewati tantangan industri perbankan di Tanah Air, salah satunya digitalisasi. Bank Bengkulu juga harus dapat mengoptimalkan pasar milenial di provinsi tersebut. 

Adapun, untuk melangkah ke digitalisasi dibutuhkan modal besar, sehingga perusahaan akan menerapkan berbagai strategi untuk mencapai itu termasuk berkolaborasi dengan bank pembangunan daerah lainnya.

“Kami harus menjawab tantangan digitalisasi dan mengejar pasar milenial,” kata Irfan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper