Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Digital Bidik UMKM, Tergiur Margin Lebar dan Pasar Besar

Dengan masuk ke UMKM, maka peluang perbankan untuk mendapat nasabah dan menyalurkan kredit makin terbuka lebar.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 09 Agustus 2022  |  16:42 WIB
Bank Digital Bidik UMKM, Tergiur Margin Lebar dan Pasar Besar
Ilustrasi daftar bank digital di Indonesia - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Peluang memperoleh bunga yang tinggi dinilai menjadi salah satu alasan bank digital berbondong-bondong masuk ke segmen UMKM. Meski demikian, bank digital juga harus berhati-hati karena segmen ini memiliki risiko yang juga besar.

Pengamat Ekonomi Perbankan dari Binus University Doddy Ariefianto mengatakan saat ini sekitar 80 persen pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM. Dengan masuk ke UMKM, maka peluang perbankan untuk mendapat nasabah dan menyalurkan kredit makin terbuka lebar.

Tidak hanya itu, lanjutnya, dalam menyalurkan kredit ke sektor UMKM, bank digital berpeluang mendapat margin bunga bersih yang besar karena bunga kredit untuk UMKM umumnya terbilang tinggi di atas dua digit. Lebih tinggi dari kredit ke sektor korporasi.

“Kalau korporasi kan sudah besar. Jadi, dia ada reputasi yang dipertaruhkan. Sementara itu UMKM masih kecil, suku bunga kredit mikro jadi tinggi. Mungkin sekitar double digit 12 persen -15 persen,” kata Doddy, Selasa (9/8).

Doddy menambahkan meski bunga yang ditawarkan besar, permintaan UMKM terhadap kredit modal kerja dan investasi akan tetap tinggi. Pasalnya, UMKM terbilang cukup tangguh dan tidak terpengaruh oleh kondisi global.

“Sebenarnya bank itu kan juga bisnis, jadi mereka akan masuk kemana profit berada. Kenapa UMKM diminati. Pertama, prosedur jualannya lebih sederhana. Dua, profitnya juga bagus. Tiga, pangsa pasarnya besar,” kata Doddy.

Adapun mengenai tantangan dalam penyaluran pembiayaan di segmen UMKM, menurut Doddy, adalah risiko kredit yang tinggi. Berbeda dengan korporasi yang sudah besar dan terukur bisnisnya, UMKM memiliki lingkup bisnis yang kecil dan dapat tutup kapan saja.

Penilaian kredit dengan menggunakan komputer yang dilakukan oleh bank-bank digital, juga belum tentu dapat mengantisipasi risiko kredit macet di sektor UMKM.

“Kalau kita memberi kredit, ingat 5C. Salah satunya, character. Dan character itu harus ketemu fisik. Itu yang saya kira menjadi tantangan digital banking. Dan saya tidak tahu apakah ada yang berani mempercayakan komputer untuk menggantikan manusia mengenali karakter,” kata Doddy.

Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan tantangan bagi bank digital dalam menyalurkan kredit ke segmen UMKM adalah masih banyak UMKM yang belum tersentuh oleh rekening bank.

Kondisi tersebut juga menandakan bahwa pasar UMKM masih sangat besar untuk digarap oleh bank-bank digital.

“Rata-rata mereka masih unbankable, sulit untuk dapat laporan keuangan yang baik dan lain-lain,” kata Amin.

Sekadar informasi, Laporan Uang Beredar Bank Indonesia menyebutkan penyaluran kredit kepada UMKM pada Juni 2022 mencapai Rp1.217 triliun tumbuh 17,6 persen (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya (17,0 persen, yoy), terutama pada kredit skala.

Kredit UMKM skala mikro tumbuh 113,7 persen (yoy) pada Juni 2022, terakselerasi lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 108,7 persen (yoy).

Berdasarkan jenis penggunaan, peningkatan kredit UMKM didorong baik oleh Kredit Modal Kerja (tumbuh 20,2 persen yoy) maupun Kredit Investasi (10,2 persen yoy).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm Bank Digital
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top