Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PMN Tak Dapat Restu, Rencana Ekspansi Indonesia Re Temui Jalan Buntu

Rencana Indonesia Re melakukan ekspansi lewat perluasan portofolio bisnis dari luar negeri tinggal harapan.
PMN Tak Dapat Restu, Rencana Ekspansi Indonesia Re Temui Jalan Buntu / Dok. Indonesia Re
PMN Tak Dapat Restu, Rencana Ekspansi Indonesia Re Temui Jalan Buntu / Dok. Indonesia Re

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana perusahaan reasuransi pelat merah PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) alias Indonesia Re untuk memperbesar portofolio bisnis dari luar negeri tinggal harapan.

Pasalnya, peringkat (rating) Indonesia Re tengah memburuk. Bak sudah jatuh tertimpa tangga, sebelumnya pemerintah pun belum mengabulkan keinginan Indonesia Re mendapat suntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) pada tahun buku 2023.

Direktur Teknik Operasi Indonesia Re Delil Khairat membenarkan bahwa rencana ekspansi ke luar negeri dalam rangka diversifikasi portofolio akan ditunda, terutama setelah lembaga pemeringkatan Fitch Ratings menurunkan rating Indonesia Re pada medio awal bulan ini.

Sebagai informasi, Fitch menurunkan rating Indonesia Re menjadi B (Lemah) dari sebelumnya BB+ (Cukup Lemah). Pada saat bersamaan, Fitch menurunkan peringkat Insurer Financial Strength (IFS) nasional Indonesia Re ke BBB(idn) dari AA-(idn).

"Target memperbesar bisnis dari luar negeri sedang kami sesuaikan. Karena untuk bisa kompetitif di kancah global, Indonesia Re perlu memiliki rating internasional minimal A-, dan untuk mencapainya kami sebenarnya perlu penguatan modal," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (21/12/2022).

Oleh sebab itu, Delil menjelaskan bahwa pihaknya saat ini hanya fokus melakukan pembenahan beberapa hal, misalnya, perbaikan portofolio, sehingga kinerja underwriting dan kinerja keuangan tak lagi jadi faktor pemberat rating Indonesia Re ke depan.

"Sepanjang 2021 memang kinerja Indonesia Re tertekan dan mencatatkan rugi yang cukup besar. Oleh sebab itu, sepanjang tahun ini kami fokus untuk membalikkan keadaan itu terlebih dahulu, sembari bersiap menatap peluang dan kesempatan yang akan datang ke depannya," tambah Delil.

Sebagai informasi, Indonesia Re membukukan kinerja hasil underwriting minus Rp343 miliar secara konsolidasi per Desember 2021. Alhasil, rugi bersih pun mencapai minus Rp517,86 miliar dan tercatat anjlok ketimbang tahun sebelumnya di mana laba bersih masih positif Rp104,05 miliar.

Secara umum, Indonesia Re terdampak lonjakan klaim akibat fenomena pandemi Covid-19 varian Delta yang berpengaruh terhadap bisnis reasuransi jiwa dan reasuransi kredit, terutama pada kuartal IV/2021. Selain itu, pada kisaran waktu tersebut ada juga kasus kebakaran besar salah satu perusahaan minyak dan gas di Tanah Air.

Sebagai perbandingan, saat ini Indonesia Re telah mencatatkan hasil underwriting positif per September 2022, tepatnya Rp88,17 miliar secara konsolidasi dan Rp10,84 miliar khusus induk. Adapun, laba bersih juga positif Rp32,94 miliar secara konsolidasi dan Rp6,98 miliar khusus induk.

"Secara umum, untuk portofolio reasuransi jiwa yang saat ini performanya buruk, yaitu terkait asuransi jiwa kredit dan individual health. Adapun, untuk reasuransi umum, yang hasilnya masih buruk ada asuransi kredit, serta yang jenis treaty alias portofolio basis. Kami akan terus membenahi seluruh portofolio tersebut demi kinerja yang lebih baik," jelasnya.

Urgensi PMN

Bukan kebetulan, Fitch pun melihat bahwa turunnya peringkat Indonesia Re juga merupakan imbas kapasitas permodalan yang lemah. Negara, selaku pemegang saham Indonesia Re, tercatat belum pernah mendukung posisi kapital perusahaan selama 5 tahun belakangan. Terbaru, pemerintah pun tidak merestui pengajuan PMN Indonesia Re pada 2023.

Sebagai pengingat, Indonesia Re sebelumnya mengajukan PMN sebesar Rp3 triliun untuk RAPBN 2023 demi meningkatkan kapasitas permodalan. Harapannya, mempercepat rencana Indonesia Re mendapatkan rating internasional yang baik, sehingga peningkatan portofolio bisnis di pasar global secara gradual bisa terlaksana. 

Terkini, kurangnya dukungan permodalan juga menyebabkan rasio kapital berbasis risiko secara regulasi (RBC) Indonesia Re turun menjadi 128 persen berdasarkan per September 2022, dari sebelumnya 145 persen berdasarkan finansial audit akhir 2021. Alhasil, rasio RBC itu hanya sedikit di atas yang dipersyaratkan regulasi sebesar 120 persen.

"Kami berharap pemerintah mulai melihat industri reasuransi nasional sebagai komponen yang sangat penting dalam proteksi risiko nasional, terutama dalam mendukung perekonomian dan pembangunan. Bisa dibayangkan, seluruh perusahaan asuransi itu butuh back-up reasuransi lokal. Artinya, satu reasuransi yang kolaps itu bisa berdampak sistemik terhadap industri asuransi," ungkapnya.

Imbas Asuransi Kredit

Dalam laporan Fitch, keterlibatan Indonesia Re terhadap lini bisnis asuransi kredit di Tanah Air juga menjadi salah satu sorotan. Sebab, kendati permintaannya tumbuh subur, rasio klaim asuransi kredit terbilang tinggi. Risiko pun meningkat, terdorong praktik underwriting yang lemah atau cadangan yang tidak memadai dari para pemain industri asuransi kredit.

Delil membenarkan bahwa jasa reasuransi untuk produk asuransi kredit dan asuransi jiwa kredit memang menjadi momok bagi pihaknya dalam dua tahun belakangan.

"Menurut laporan Fitch, poin yang menyebabkan rating Indonesia Re tertekan itu salah satunya pertumbuhan cepat industri asuransi kredit dalam lima tahun belakangan, tapi ternyata kualitasnya kurang terjaga. Jadi Fitch ternyata juga fokus melihat kondisi pasar, sehingga menganggap Indonesia Re sebagai penyedia reasuransi sedikit-banyak akan terpengaruh gejolak itu," jelasnya.

Namun, Delil menjelaskan bahwa sebagai perusahaan reasuransi yang telah bermain dalam lini bisnis asuransi kredit sejak 2013, sebenarnya Indonesia Re telah mencium adanya perburukan performa lini bisnis itu sejak 2018. Itulah alasan kenapa portofolio terkait pun terus dikurangi, terutama dari para pemain asuransi kredit besar.

Menurut Delil, barangkali ini yang menyebabkan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) masih mempertahankan kekuatan finansial perusahaan di peringkat idAA-/stabil per 14 Desember 2022, karena melihat upaya-upaya perbaikan dari perusahaan. Peringkat ini terbilang sama dengan penilaian Pefindo per Juli 2022, namun turun sejak Desember 2021 di peringkat idAA/stabil.

"Sebenarnya portofolio kami terkait asuransi kredit sudah sangat kecil. Indonesia Re pun telah menjelaskan kepada para lembaga pemeringkat, baik Fitch maupun Pefindo, bahwa kami telah mendorong perbaikan kualitas portofolio," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Aziz Rahardyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper