Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bos Generali Sebut Nilai Pencairan Dini Polis Stabil

Tahun ini, CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman optimistis klaim pencairan dini cenderung lebih kecil karena masyarakat semakin sadar akan pentingnya proteksi. 
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 26 Januari 2023  |  11:26 WIB
Bos Generali Sebut Nilai Pencairan Dini Polis Stabil
Karyawan melintas di dekat logo PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia di Jakarta, Kamis (2/7/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan asuransi jiwa PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia menyampaikan nilai surrender atau pencairan dini sebelum masa berakhirnya polis maupun partial withdrawal tahun 2022 masih stabil dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Kendati demikian, Generali Indonesia tidak membantah masih adanya polis-polis nasabah yang surrender atau melakukan pembatalan poliskhususnya pada polis single premium unit-linked (SPULyang sudah jatuh tempo. Begitu pula untuk polis regular premium unit-linked (RPUL), namun tidak terjadi peningkatan yang signifikan.

Jumlahnya sendiri masih cenderung tidak jauh berbeda dengan surrender yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya,” kata Chief Executive Officer (CEO) Generali Indonesia Edy Tuhirman kepada Bisnis, Rabu (25/1/2023).

Merujuk data kuartal III/2022, Edy menyampaikan bahwa Generali masih menunjukkan kinerja yang cukup baik, tercermin dari perolehan premi yang dibukukan mencapai lebih dari Rp2,2 triliun. Selain itu, premi lanjutan perusahaan juga tumbuh 3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

“Ke depan, kami berharap masyarakat bisa lebih bijak jika ingin mengambil keputusan surrender atau pembatalan polis, karena mengingat potensi risiko masih akan selalu ada dan kebutuhan akan proteksi asuransi masih sangat diperlukan untuk melindungi risiko yang mungkin terjadi,” ujarnya.

Tahun ini, Edy optimistis klaim surrender cenderung lebih kecil karena masyarakat semakin sadar akan pentingnya proteksi. Selain itu, tambah Edy, jika merujuk data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada kuartal III/2022, angka klaim kesehatan secara industri sebesar 35,1 persen. 

“Artinya, ada demand masyarakat yang bertumbuh terhadap perlindungan asuransi. Selain itu, tumbuhnya kebutuhan asuransi juga dibuktikan dengan tumbuhnya jumlah tertanggung secara industri yang tumbuh 28 persen pada kuartal III/2022,” sambungnya. 

Adapun dalam mengantisipasi lonjakan klaim surrender tahun 2023, Edy menyampaikan bahwa Generali Indonesia banyak melakukan edukasi terkait penting asuransi di tengah risiko yang masih tinggi, dari aspek penjualan inovasi dari sisi produk untuk berbagai segmen nasabah dan simplifikasi proses pembelian. 

Sementara dari sisi produk, pihaknya juga telah menyiapkan strategi dari sisi produk sesuai dengan perkembangan kebutuhan proteksi di setiap segmen, baik konvensional maupun syariah. Upaya tersebut dilakukan agar masyarakat memiliki akses asuransi di tengah risiko yang saat ini masih tinggi, baik untuk produk manfaat pasti maupun unit-linked. 

Melalui strategi multi channel dan multi product ini diharapkan bisa mengakomodir kebutuhan proteksi masyarakat yang saat ini sedang meningkat,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

generali indonesia asuransi jiwa asuransi
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top