Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

FDIC akan Pertahankan Kepemilikan Surat Berharga Signature Bank dan SVB

Jumlah surat berharga yang dimiliki Signature Bank berkisar US$20 miliar hingga US$50 miliar, sedangkan Silicon Valley Bank antara US$60 miliar–US$120 miliar.
Nasabah mencoba membuka pintu kantor pusat Silicon Valley Bank di Santa Clara, California, AS, Jumat (10/3/2023). /Bloomberg-Philip Pacheco
Nasabah mencoba membuka pintu kantor pusat Silicon Valley Bank di Santa Clara, California, AS, Jumat (10/3/2023). /Bloomberg-Philip Pacheco

Bisnis.com, JAKARTA — Federal Deposit Insurance Corp (FDIC) tengah mempertimbangkan untuk mempertahankan kepemilikan surat berharga yang dimiliki oleh Signature Bank dan Silicon Valley Bank (SVB)

Mengutip Reuters, Sabtu (18/3/2023) langkah regulator Amerika Serikat (AS) tersebut bertujuan agar bank kecil hingga bank besar dapat berpartisipasi dalam lelang.

Banyak surat berharga pendapatan tetap yang diinvestasikan oleh SVB dan Signature Bank, seperti surat utang negara, bernilai lebih rendah sejak Federal Reserve menaikkan suku bunga. 

FDIC yang mempertahankan surat berharga tersebut juga akan memastikan bahwa pihak yang mengakusisi tidak membukukan kerugian.

Sebelumnya, Bloomberg melaporkan langkah tersebut pada 17 Maret 2023 waktu setempat. Bloomberg melaporkan jumlah surat berharga yang dimiliki Signature Bank dapat berkisar dari US$20 miliar hingga US$50 miliar, sedangkan untuk Silicon Valley Bank antara US$60 miliar dan US$120 miliar.

Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa regulator di FDIC telah meminta bank yang tertarik untuk mengakuisisi SVB dan Signature Bank untuk mengajukan penawaran paling lambat 17 Maret.

Tindakan akhir pekan yang diluncurkan oleh FDIC tersebut setelah gagal menjual SVB pada pekan lalu karena bank-bank besar menolak keras melakukan kesepakatan berisiko dalam waktu singkat.

Sebagaimana diketahui, SVB dilaporkan bangkrut pada akhir pekan lalu (10/3/2023) usai gagal mengumpulkan dana tambahan sebesar US$2,25 miliar dalam 48 jam.

Bangkrutnya SVB terimbas kenaikan suku bunga secara agresif. Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sejak tahun lalu untuk menekan lonjakan inflasi. Kenaikan suku bunga merupakan momok menakutkan bagi perusahaan rintisan.

Pemodal berpaling untuk menambah investasi di startup. Akibatnya, perusahaan menarik dananya di SVB untuk memenuhi likuiditas.

Bank yang didirikan pada 1983 itu memang memiliki spesialisasi pembiayaan ke startup berbasis teknologi. Portofolio separuhnya dialokasikan ke startup dan layanan kesehatan Amerika.

Sejumlah startup kenamaan global pun berbisnis dengan SVB, diantaranya Shopify Inc, Stripe, Pinterest, hingga Coinbase.

Bangkrutnya SVB kemudian berdampak kepada Signature Bank. Hingga September 2022, hampir seperempat simpanan Signature berasal dari sektor mata uang kripto, tetapi bank tersebut mengumumkan pada Desember bahwa mereka akan menyusutkan simpanan terkait kripto sebesar US$8 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper