Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonom Mandiri Proyeksi Pertumbuhan Kredit Bank 2023 sebesar 9 Persen

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan hanya berada di kisaran 8 persen hingga 9 persen.
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas menyampaikan terjadi penurunan ekspektasi terhadap pertumbuhan kredit di sektor perbankan nasional.  

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan hanya berada di kisaran 8 persen hingga 9 persen. 

“Berdasarkan nowcasting kami, pertumbuhan kredit, ini industri ya bukan Bank Mandiri, akan berada di kisaran 8 persen hingga 9 persen atau relatif di bawah ekspektasi awal tahun kami yang berada di kisaran 10 persen hingga 11 persen,” ujarnya dalam Media Gathering & Presentasi Macroeconomic Outlook, Selasa (22/8/2023). 

Dia menyebut, proyeksi ini didasarkan atas perhitungan pertumbuhan loan (pinjaman) tahun ini mencapai 3,62 persen year-to-date dan pertumbuhan deposito yang terparkir di zona negatif sebesar 1,36 persen year-to-date.

“Kalau kita menggunakan dengan pola rata-rata pertumbuhan kredit dalam lima tahun terakhir, di luar dari periode pandemi, itu memang pertumbuhan kredit industri berada dalam kisaran 9 persen. Sebenarnya ini relatif in line dengan proyeksi yang telah diumumkan oleh Bank Indonesia,” katanya.

Tak hanya itu, pria yang kerap disapa Asmo itu juga mengatakan tekanan dari sektor ekspor yang mengalami penurunan, menjadi faktor yang mendasari pihaknya menurunkan ekspetasi pertumbuhan kredit industri perbankan nasional.  

“Meski sejumlah sektor domestic base memiliki potensi pertumbuhan cukup baik, yang menumbuhkan permintaan akan kredit di perbankan. Namun, memang ada beberapa sektor [ekspor] yang tadinya memang berpotensi untuk mengalami peningkatan justru terkena pressure penurunan ekspornya juga cukup besar. Nah, ini yang kemudian memberikan tekanan kepada permintaan kredit pada 2023 ini,” ungkapnya. 

Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi disebut masih ditopang sektor-sektor terkait mobilitas. Sektor konstruksi juga masih akan mengalami akselerasi mengikuti pola siklus tahunan yang pada semester kedua mengalami akselerasi karena mengejar target penyelesaian proyek.

Sektor terkait komoditas masih tumbuh tinggi, tetapi mengalami perlambatan karena koreksi harga di pasar global.

Tak hanya itu, pihaknya menyebut terdapat risiko pertumbuhan sektoral ke depan, yakni pelemahan permintaan akibat resesi ekonomi global yang mengancam kinerja produk-produk orientasi ekspor ke negara maju, seperti, tekstil dan garmen, alas kaki, furniture dan kayu lapis.

Sementara, dari segi sektor perbankan, fungsi intermediasi perbankan masih terus tumbuh positif meski mulai termoderasi. 

Pertumbuhan kredit pada Juni tumbuh 7,76 persen melambat jika dibandingkan akhir kuartal I/2023 sebesar 9,9 persen. Di sisi lain, pertumbuhan dana pihak ketiga juga terus melambat, tercatat mencapai 5,79 persen pada bulan Juni seiring perilaku nasabah yang kembali menggunakan dananya untuk konsumsi atau investasi. 

Namun demikian, likuiditas perbankan secara umum masih cukup memadai terefleksi dari rasio loan to deposit (LDR) yang masih berada pada 82 persen, sehingga masih akan dapat menopang akselerasi pertumbuhan ekonomi ke depan. 

Seiring dengan hal ini, sejumlah bank jumbo mencatatkan perlambatan dalam sisi kredit. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) atau BCA misalnya, yang mengalami perlambatan pertumbuhan kredit menjadi 9 persen yoy menjadi Rp735,9 triliun pada semester I/2023. 

Sementara, pada kuartal I/2023 penyaluran kredit bank tumbuh 12 persen yoy sebesar Rp713,82 triliun. 

Meskipun terjadi perlambatan, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengungkapkan perseroan masih menargetkan pertumbuhan kredit pada level 9-12 persen tahun ini. 

"Katakanlah year end misalnya, ada peningkatan pesat terutama dari korporasi, ya," ujar Jahja saat paparan kinerja semester I/2023, Senin (24/7/2023). 

Sementara itu, penyaluran kredit Bank Mandiri tumbuh 11,8 persen yoy menjadi Rp 1.272 triliun pada semester I/2023.  Capaian ini lebih rendah dibandingkan kuartal I/2023 di mana peningkatan penyaluran kredit Bank Mandiri sebesar 12,46 persen YoY secara konsolidasian Rp1.205 triliun

PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) atau BNI mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 4,9 persen menjadi Rp 650,8 triliun pada semester I/2023.  Sebelumnya pada kuartal I/2023, bank pemerintah ini mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 7,2 persen yoy sebesar Rp634,3 triliun. 

Berdasarkan data dari BI, pertumbuhan kredit perbankan terbilang rendah, hanya sebesar 7,76 persen tahunan year on year (yoy) pada paruh pertama 2023, jauh dari perkiraan 9 hingga 11 persen. Pertumbuhan ini juga merupakan yang terendah sepanjang tahun.  

Senior Faculty dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin bahwa pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung tidak sepenuhnya dapat membujuk para pebisnis untuk meningkatkan permintaan kredit. 

“Mereka masih wait and see dalam meningkatkan rencana investasinya ke depan. Kredit yang paling banyak diminati adalah modal kerja, lalu sebagian lainnya dipicu oleh proyek-proyek pembangunan infrastruktur,” katanya pada Bisnis beberapa waktu lalu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper