Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Laba Leasing Berisiko Terkoreksi, dampak Suku Bunga Tinggi

Apabila bunganya naik, terdapat kemungkinan debitur akan lari. Oleh sebab itu laba industri leasing berpotensi terkoreksi.
Ilustrasi leasing kendaraan bermotor./ Dok Freepik
Ilustrasi leasing kendaraan bermotor./ Dok Freepik

Bisnis.com, JAKARTA— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap kemungkinan laba perusahaan multifinance mungkin terkoreksi pada 2024. Hal tersebut lantaran kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) ke level 6%. 

Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Bambang Wijoyosatrio Budiawan mengatakan meskipun suku bunga naik perusahaan multifinance berhati-hati apabila akan menaikan bunga kepada debitur, terutama untuk pembiayaan di sektor multiguna. 

Menurutnya apabila bunganya naik, maka debitur akan lari. Oleh sebab itu laba industri leasing kemungkinan akan terkoreksi. 

“Kalau masih mau masuk ke situ [multiguna] yang akan menjadi koreksi nanti di profit misal 4,5% menjadi 4%,” kata Bambang ditemui di sela acara Pertemuan Anggota dan Apresiasi Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) di Jakarta, Selasa (28/11/2023).

Namun demikian, Bambang mengatakan bahwa penurunan laba tersebut tak menjadi masalah serius. Justru perusahaan yang siap dengan penurunan laba karena tak menaikan bunganya menurutnya lebih sustain. 

“Kalau yang mau hajar kanan kiri ya kemungkinan NPF-nya yang kena,” katanya. 

Bambang juga menegaskan apabila bisnis multifinance mengalami perlambatan pada awal tahun. Hal tersebut bukan karena adanya Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, tetapi memang pada awal-awal tahun perusahaan multifinance baru memanaskan mesinnya.

Kenaikan mungkin akan terlihat pada pertengahan 2024. “Saya enggak melihat sentimen negatif daripada pesta demokrasi,” ungkapnya. 

Bambang mengatakan pihaknya juga optimistis bahwa multifinance bisa tumbuh double digit pada 2024. Terutama karena Pemerintah juga memproyeksikan ekonomi masih akan tumbuh sebanyak 5% tahun depan.  

“Jadi, equivalent kalau berdasarkan historis pertumbuhan ekonomi 5% multifinance akan lebih tumbuh dua kali lipatnya,” katanya. 

Sementara itu, Ketua Umum APPI Suwandi juga melihat bahwa pertumbuhan perusahaan multifinance akan berlanjut pada 2024. Dia melihat banyaknya ekonom yang masih optimistis dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 

Senada dengan Bambang, Suwandi melihat bahwa pada dua bulan pertama tahun 2024 ada kemungkinan melambat. 

“Biasanya kan memang kalau bulan pertama dan kedua masih pemanasan. Harapan kita selama ekonomi tumbuh dan pendapatan tidak terganggu, selama daya beli tidak terganggu dan selama tidak ribut-ribut semua jalan sesuai fungsi,” ungkapnya. 

Suwandi juga melihat bahwa sektor multiguna akan menjadi pendorong pertumbuhan multifinance. Terlebih masih banyak masyarakat yang membutuhkan kendaraan baru pasca Covid-19. Dengan demikian, dia juga masih optimistis terkait dengan pertumbuhan laba perusahaan multifinance. 

“Barometer kami di 2020-2022, saat Covid-19 orang mau beli kendaraan enggak bisa beli. Jadi bayangkan, orang biasanya tiga tahun saja ingin ganti motor,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper