Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Saham Bank Digital kala Hype dan Masa Kini, Siapa Paling Anjlok?

Harga saham bank digital saat ini masih jauh dari harapan, setelah lama tidur sejak 'hype' bank digital medio 2021 berlalu.
Ilustrasi daftar bank digital di Indonesia/Freepik
Ilustrasi daftar bank digital di Indonesia/Freepik

Bisnis.com, JAKARTA -- Harga saham bank digital seperti PT Bank Jago Tbk. (ARTO) dan PT Allobank Indonesia Tbk. (BBHI) kompak melesat sebulan terakhir. Namun, nyatanya harga saham bank digital masih jauh dari harapan, telah lama tidur sejak 'hype' bank digital medio 2021 berlalu.

Berdasarkan data RTI Business, harga saham ARTO mencapai level Rp3.490 pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (1/12/2023), melonjak 93,89% dalam sebulan.

Harga saham BBHI pun melesat 19,08% dalam sebulan dan ditutup pada level Rp1.560 pada perdagangan pekan lalu.

Emiten bank digital lainnya PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) mencatatkan kenaikan harga saham hingga 64,9% dalam sebulan dan ditutup di level Rp384. Sementara harga saham PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) terdorong 30% ke level Rp312.

Tim JP Morgan bahkan sempat memberikan pandangan optimistis terhadap prospek saham salah satu bank dital, yakni ARTO. Hal itu tecermin dari peringkat overweight yang disematkan melalui riset akhir Oktober 2023.

Kendati demikian, pandangan itu berubah setelah terjadi reli saham ARTO dalam sebulan terakhir. Dilansir dari Bloomberg, Tim Analis JPMorgan yang di dalamnya termasuk Harsh Wardhan Modi menulis sebuah catatan yang menyarankan investor memangkas eksposur terhadap saham ARTO. 

“Reli harga saham ARTO dalam sebulan terakhir terlalu dipenuhi banyak optimisme,” ujarnya dikutip dari Bloomberg beberapa waktu lalu.

Dengan demikian, JP Morgan merevisi turun peringkat saham ARTO dari overweight atau buy menjadi netral dengan target harga tetap di Rp2.700. Perbankan investasi asal Amerika Serikat itu menilai valuasi sudah sangat mahal.

Bloomberg melaporkan Macquarie juga telah merevisi turun peringkat saham ARTO dari netral menjadi underperform dengan target harga Rp1.600.

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengatakan kinerja saham bank-bank digital memang naik dalam sebulan terakhir, tapi masih jeblok sepanjang tahun berjalan.

"Ini karena harga saham mereka masih overvalued. Valuasi mereka [emiten bank digital] tidak wajar, investor pun lebih cenderung untuk jual/lepas saham tersebut untuk saham yang yang lebih kondusif," katanya kepada Bisnis beberapa waktu lalu. Menurutnya, emiten bank-bank digital juga wajar mendapatkan rekomendasi sell karena kurang prospektif.

Nyatanya, harga saham bank-bank digital itu memang belum sepenuhnya bangun dari tidurnya. Tercatat, harga saham Bank Jago masih turun 6,18% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd). Harga saham BBHI masih merosot 11,61% ytd, harga saham BBYB turun 40,47% ytd, dan harga saham AGRO turun 22,77% ytd.

Penurunan Harga Pasca 'Hype' Bank Digital

Harga saham ARTO hingga BBHI sempat melonjak kala 'hype' bank digital medio 2021. Namun, setelahnya saham-saham bank digital menguap.

Kala ramai bank digital, konglomerat Jerry Ng mengubah nama bank yang diakuisisinya yakni Bank Artos menjadi Bank Jago. Kemudian, bank tersebut ditransformasi menjadi bank digital atau bank yang berbasis teknologi.

Saat itu, harga saham ARTO terbang. Sepanjang 2021, harga saham ARTO meroket 348,68% atau hampir 4 kali lipat, dari Rp3.566 menjadi Rp16.000.

Harga saham ARTO bahkan sempat menyentuh level Rp19.000 pada Januari 2022. Namun, kini harganya jadi Rp3.490, menguap 81,63% sejak mencapai harga tertinggi. 

Harga Saham Bank Digital kala Hype dan Masa Kini, Siapa Paling Anjlok?

Nasabah melakukan transaksi melalui aplikasi Allo Bank di Jakarta, Selasa (4/1/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Konglomerat Chairul Tanjung juga tak mau ketinggalan 'hype' bank digital. Melalui Mega Corpora, Chairul Tanjung mengakuisisi Bank Harda Internasional. Nama Bank Harda kemudian menjadi Allo Bank per Juni 2021.

Sepanjang 2021, harga saham BBHI juga meroket 4.397,72% atau hampir 45 kali lipat, dari Rp88 menjadi Rp3.958.

Harga saham BBHI sempat menyentuh level tertinggi di Rp7.300 pada Januari 2022. Namun, kini harganya jatuh ke level Rp1.560, atau turun 78,63% sejak mencapai level tertinggi.

PT Akulaku Silvrr mengambil alih Bank Yudha Bhakti dan mengubahnya menjadi bank digital dengan nama Bank Neo Commerce pada akhir 2020.

Harga saham Bank Neo Commerce atau BBYB pun meroket pada 2021 seiring 'hype' bank digital. Dari level Rp250 pada awal Januari 2021 menjadi Rp2.456 pada akhir Desember 2021, atau naik 882,4%, hampir 10 kali lipat.

Harga saham BBYB sempat menyentuh level Rp2.614 pada Desember 2021. Namun, kini harganya menjadi Rp384, yang artinya turun 85,3% sejak mencapai level tertinggi pada Desember 2021 itu.

Bank berpelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) pun kepincut 'hype' bank digital dengan mengubah nama PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. menjadi PT Bank Raya Indonesia Tbk. atau Bank Raya dan mentransformasikannya menjadi bank digital pada 2021.

Nasib yang sama dihampiri AGRO seperti emiten bank digital lainnya. Harga saham AGRO terbang 81,36% atau dari Rp998 pada awal 2021 menjadi Rp1.810 pada akhir 2021.

Harga saham AGRO bahkan sempat mencapai level Rp2.788 pada 2021. Namun, kini menjadi Rp312 atau turun 88,8% sejak mencapai level tertinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper