Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bankir Full Senyum Gegara Nasabah Berisiko Makin Landai Tahun Ini

Kondisi kredit berisiko atau Loan at Risk (LaR) yang melandai bakal terjadi tahun ini seiring dengan berjalannya skema restrukturisasi kredit yang kian membaik.
Ilustrasi kredit macet atau nonperforming-loan (NPL)/Freepik
Ilustrasi kredit macet atau nonperforming-loan (NPL)/Freepik

Bisnis.com, JAKARTA - Menurunnya jumlah kredit restrukturisasi dan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan) otomatis bakal mendorong penurunan kredit berisiko atau Loan at Risk (LaR).

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengungkapkan kondisi LaR yang melandai bakal terjadi tahun ini seiring dengan berjalannya skema restrukturisasi kredit yang kian membaik.

“LaR juga akan membaik, meski landai dan tidak terlalu tajam turunnya,” katanya pada Bisnis, Kamis (11/1/2024). 

Sebagaimana diketahui, Loan at Risk merupakan indikator risiko kredit yang disalurkan yang terdiri atas kredit kolektibilitas 1 yang telah direstrukturisasi, kolektibilitas 2 atau dalam perhatian khusus, serta kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Berdasarkan laporan Surveillance Perbankan Indonesia, OJK mencatat kredit restrukturisasi perbankan per September 2023, turun sebesar 24,48% secara tahunan. Di mana, tren penurunan jumlah kredit restukturisasi ini sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian pasca pandemi Covid-19.

“Kredit restrukturisasi masih didominasi oleh kredit restrukturisasi kualitas Lancar sebesar Rp340,78 triliun atau 54,88% terhadap total kredit restrukturisasi,” lapor OJK yang dikutip Bisnis.

Lebih rinci, kredit restrukturisasi kualitas Lancar tersebut turun 38,90% (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya yang turun 25,77% (yoy). Selanjutnya, kredit restrukturisasi terdampak Covid-19 berada dalam tren penurunan. Pada September 2023 tercatat sebesar Rp316,98 triliun, atau terkontraksi 39,00% secara tahunan dari tahun sebelumnya sebesar Rp519,64 triliun.

“Penurunan kredit restrukturisasi tersebut menunjukkan kemampuan membayar debitur yang membaik seiring dengan berlanjutnya pemulihan ekonomi dan perbaikan mobilitas masyarakat,” kata OJK.

Sementara itu, pada September 2023, risiko kredit membaik tecermin dari rasio NPL gross tercatat sebesar 2,43%, menurun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 2,78%. Rasio NPL net juga masih terjaga stabil sebesar 0,77%,

Adapun, sejumlah bank jumbo memang mencatatkan penyusutan kredit berisiko terhadap nilai kredit bank only. Misalnya PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang memiliki LaR sebesar 7,6% per September 2023, susut 4,1% dari periode yang sama tahun lalu yakni 11,7%. 

Lalu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang mencatat LaR sebesar 14,4% pada September 2023, turun 4,9% dibanding posisi tahun lalu 19,3% per September 2022.

Kemudian PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang mencatat LaR sebesar 13,87%, dari periode yang sama tahun lalu sebesar 19,3%.

Penurunan juga terjadi pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang mencatat kualias kredit bank only menunjukkan perbaikan. Di mana, rasio NPL per September 2023 di level 1,36% turun 52 basis poin (bps) secara tahunan dari posisi akhir tahun 2022. 

Direktur Manajemen Risiko Ahmad Siddik Badruddin menyebut Loan at risk ratio (LaR) BMRI berada di level 9,87% atau turun 2,23% dari posisi akhir tahun lalu. 

“Perbaikan ini mendorong adanya penurunan Cost pf Credit (CoC) yang tadinya 1,21% di Desember tahun 2022, menjadi 0,73% di September 2023,” ujarnya beberapa waktu lalu. 

Sejalan dengan perbaikan kualitas portofolio kredit tersebut, kecukupan pencadangan juga mengalami penyesuaian yang dapat dilihat dari peningkatan persentase NPL coverage yang mencapai 339,61% di September 2023, naik dari Desember 2022 sebesar 311,1%.

“Kami melihat tren perbaikan kualitas kredit ini akan berlanjut dan stabil di tahun 2024 mendatang,” katanya. 

Ke depan, kata Siddik, perseroan akan terus menerapkan early warning mechanism dan watchlisting process pada debitur dan portofolio baik retail maupun wholesale untuk mendeteksi adanya penurunan kinerja.

  “Sehingga kami dapat mengambil proactive action melalui action-action untuk menghindari account tersebut downgrade ke NPL,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper