Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Pembangunan Daerah Riau Kepri Syariah (Perseroda) alias BRK Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp339,37 miliar pada 2024. Realisasi itu naik 19,59% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp283,78 miliar pada 2023.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan di Harian Bisnis Indonesia edisi Kamis (20/3/2025), perolehan laba itu salah satunya didorong oleh pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang tumbuh 8,75%, dari Rp1,29 triliun pada 2023 menjadi Rp1,4 triliun pada 2024.
Selain itu, pendapatan berbasis komisi alias fee-based income BRK Syariah juga naik 2,25% pada tahun lalu, dari Rp82,15 miliar menjadi Rp83,99 miliar.
Lebih lanjut, total pembiayaan BRK Syariah tumbuh 7,09% YoY dari Rp20,18 triliun menjadi Rp21,61 triliun. Nilai itu terdiri dari piutang sebesar Rp12,88 triliun, pembiayaan bagi hasil sebesar Rp8,49 triliun, serta pembiayaan sewa sebanyak Rp241,2 miliar.
Kualitas pembiayaan membaik dengan rasio pembiayaan bermasalah atau nonperforming financing (NPF) gross yang turun dari 2,48% menjadi 2,37%. NPF net turun dari 0,45% menjadi 0,39%.
Dengan demikian, total aset perseroan mencapai Rp30,86 triliun pada 2024, naik 5,16% dari Rp29,34 triliun pada 2023.
Baca Juga
Dari sisi simpanan, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun BRK Syariah pada 2024 mencapai Rp24,32 triliun, naik 3,52% YoY dari DPK 2023 yang sebesar Rp23,49 triliun. Dana simpanan wadiah mencapai Rp1,66 triliun, sedangkan dana investasi nonprofit sharing sebesar Rp22,66 triliun.
Terkait rasio kinerja lainnya, net operation margin (NOM) BRK Syariah naik ke level 1,08% pada 2024, dari semula 0,80% pada 2023.
Rasio imbal aset atau return on asset (ROA) juga naik dari 1,33% menjadi 1,43%, sementara imbal ekuitas alias ROE naik dari 8,98% menjadi 10,42% sepanjang periode yang sama.