Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MARGIN BUNGA Menipis, namun laba perbankan tetap tumbuh

 
Sutan Eries Adlin
Sutan Eries Adlin - Bisnis.com 17 Mei 2012  |  15:29 WIB

 

JAKARTA: Di tengah penurunan margin bunga bersih yang mencapai level terendah dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir, perbankan nasional masih dapat meningkatkan laba bersih hampir 18% pada triwulan I/2012.
 
Berdasarkan statistik perbankan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, perbankan nasional meraup laba bersih Rp21,61 triliun selama periode Januari—Maret 2012, meningkat 17,95% dibandingkan dengan setahun sebelumnya Rp18,32 triliun
 
Peningkatan laba bersih tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp45,64 triliun dibandingkan dengan sebelumnya Rp Rp41,9 triliun.
 
Hal tersebut didorong oleh ekspansi kredit yang tumbuh 25% menjadi Rp2.282 triliun pada Maret 2012 dari setahun sebelumnya Rp1.824 triliun. 
 
Padahal margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan jatuh ke 5,15% dan merupakan level terendah sejak beberapa tahun terakhir. 
 
Sementara itu, dari pendapatan operasional non bunga tercatat Rp37,79 triliun, meningkat dari sebelumnya Rp32,59 triliun, yang ditopang oleh keuntungan dari transaksi spot dan derivatif Rp9,04 triliun, dan dividen, komisi, provisi serta fee Rp8,07 triliun.
 
Hingga akhir Maret 2012 dana pihak ketiga yang dikelola oleh perbankan mencapai Rp 2.825 triliun naik 20,16% dari setahun sebelumnya dibandingkan pada Maret 2011 yang sebesar Rp 2.351 triliun.
 
Seluruh kinerja tersebut membuat aset perbankan menembus Rp3,7 kuadriliun, atau tepatnya Rp 3.708 triliun, naik 20,98% dari setahun sebelumnya Rp3.065 triliun. 
 
Pada statistik yang sama terlihat rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) turun menjadi 76,68%, dibandingkan dengan Februari yang tercatat 85,96% dan Januari 91,78%.
 
Penurunan BOPO dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan operasional yang mencapai Rp110,64 triliun. Sementara itu beban operasional tercatat Rp84,84 triliun.
 
Padahal dalam setahun terakhir BOPO selalu tercatat berada di atas 80%, yang dinilai Bank Indonesia (BI) terlalu tinggi. Bank sentral kerap menekan perbankan nasional agar meningkatkan efisiensi guna menekan BOPO hingga di bawah 80%.
 
Difi A. Johansyah, Direktur Grup Humas BI, mengatakan bank sentral akan memantau penurunan NIM apakah itu merupakan tren atau hanya terjadi pada Maret saja.
 
“Kalau itu tren berarti cukup positif untuk suku bunga pinjaman ke depan,” ujarnya kepada Bisnis hari ini, Kamis 17 Mei 2012.
 
Sementara itu dia mensinyalir penurunan BOPO disebabkan karena biaya overhead (operasional) dari perbankan turun. “Namun harus kami teliti dulu penyebabnya,” jelas dia.
 
Muhamad Ali, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, menilai peningkatan laba dipengaruhi oleh pertumbuhan pinjaman yang berkualitas dari industri yang akhirnya mengurangi besaran pencadangan.
 
Selain itu, pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee based income) dari layanan perbankan juga mendorong kenaikan laba.
 
“Peningkatan laba a.l. karena dipengaruhi oleh pertumbuhan pinjaman yang sehat yang juga berpengaruh terhadap pencadangan, serta peningkatan fee based income.”
 
Adapun untuk penurunan BOPO industri yang tercatat 76,68%, dia melihat karena penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 50/55. “Itu karena penurunan pembentukan biaya provisi dengan penerapan PSAK 50/55,” jelasnya.
 
Hingga akhir Maret 2012, besaran kredit yang belum disalurkan (undisbursed loan) mencapai Rp707,64 triliun, yang terdiri atas commited Rp270,38 triliun dan uncommitted Rp437,26 triliun.
 
Meskipun nilai undisbursed loan terus meningkat, namun porsinya dari total kredit cenderung relatif sama yakni sekitar 30%--31%. Hal tersebut mencerminkan undisbursed loan meningkat sejalan dengan ekspansi kredit.
 
Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio) perbankan tercatat masih cukup pada Maret 2012, yakni 18,28%, jauh dari batas tingkat kesehatan bank yakni 8%. Sementara itu rasio modal inti (tier I) terhadap aktiva tertimbang menurut risiko juga masih tinggi, yakni 16,42%. (sut) 
 
 
 

BACA JUGA:

11:56 - Dolar AS Keok Di Pasar Asia

10:58 - HARGA EMAS Naik 1,93 Sen Dolar/Gram

06:53 - EDITORIAL BISNIS: Kasus Korupsi Jangan Tertutup Karena Musibah Sukhoi

02:25 - GAGALNYA LADY GAGA: Sold Out Dulu Baru Izin…?

01:55 - BLACK BOX SUKHOI: Ini Rute Perjalanan Panjang Kotak Hitam Setelah Ditemukan

01:46 - FINAL LIGA CHAMPIONS: Ujian Terberat DI MATTEO

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top