Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI ASURANSI: Kebijakan LCGC berpotensi dongkrak perlindungan kendaraan

BISNIS.COM JAKARTA--Industri asuransi menilai kebijakan low cost and green car (LCGC) berpotensi mendongkrak bisnis perlindungan kendaraan. 
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 26 Maret 2013  |  19:41 WIB

BISNIS.COM JAKARTA--Industri asuransi menilai kebijakan low cost and green car (LCGC) berpotensi mendongkrak bisnis perlindungan kendaraan. 

Aryanto Alimin, Direktur Asuransi Sinarmas, mengatakan berdasar standar tarif maka  premi asuransinya semakin mahal. "Kami sebenarnya bergantung ATPM [agen tunggal pemegang merek], kalau mereka naik kami ikut," jelasnya kepada Bisnis, Selasa (26/3/2013).
 
Kebijakan mobil murah itu, lanjut dia, akan berdampak terhadap premi. Per-07/BL/2012 yang mengatur acuan premi menyebutkan untuk kendaraan murah premi perlindungannya lebih mahal.
 
Sekadar ilustrasi, kendaraan nonbus dan nontruk  dengan uang pertanggungan sampai Rp150 juta maka premi kehilangan total (loss  only) 0,24% dan pertanggungan menyeluruh 1,82% dari nilai objek.
 
Adapun kendaraan dengan pertanggungan hingga Rp300 juta maka pertanggungan kehilangan total sebesar 0,17% dan pertanggungan menyeluruh 1,40%.
 
Nilai premi lebih kecil berlaku bagi kendaraan bernilai pertanggungan lebih dari Rp800 juta.  Premi untuk kehilangan total kendaraan jenis itu hanya 0,11% dan 0,37% untuk perlindungan menyeluruh.
 
Sementara perolehan premi bruto mobil Sinarmas pada 2012 sebesar Rp648,96 miliar naik 3,01% dari perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp630 miliar. Sementara premi kendaraan roda dua pada 2012 sebesar Rp384,25 miliar dari sebelumnya Rp504,79  miliar atau turun 23,8%.
 
Meski LCGC memberi harapan positif, lanjut Aryanto, penjualan motor masih akan melambat tahun ini. "Kami belum bisa memprediksi, tetapi motor masih akan melambat," jelasnya.
 
Di sisi lain, data Otoritas Jasa Keuangan sektor pembiayaan konsumen yang meliputi  kendaraan bermotor, barang elektronik, pembiayaan rumah menunjukkan tren naik.  
 
Pembiayaan konsumen per Desember 2012 sebesar Rp197 triliun naik Rp32 triliun  (19,3%) dari periode 2011 sebesar Rp165 triliun.
 
Bila dibandingkan berdasar kegiatan usaha, pembiayaan konsumen memiliki porsi  terbesar. Total piutang pembiayaan konsumen Rp193,07 triliun (64%), sewa usaha  Rp104,2 triliun (34%) dan anjak piutang Rp5,15 triliun (2%) dan sisanya kartu  kredit.
 
Saat dibandingkan month to month periode Januari 2013 pembiayaan tumbuh 0,65% dan  pertumbuhan dari tahun ke tahun periode Januari 2013 sebesar 16,28%.
 
Meski pembiayaan konsumen tercatat tumbuh signifikan, Direktur Pemasaran PT Buana  Finance Tbk Herman Lesmana mengaku pembiayaan konsumen di jajarannya belum tentu  terpengaruh. Pasalnya, perusahaannya membiayai mobil bekas.
 
"[Pembiayaan konsumen] second choice, tapi kalau kompetitor bank masuk ke sana  [pembiayaan LCGC] kami akan memperhitungkan porsi. Kami belum bisa memprediksinya, tetapi yang jelas menekan harga jual [mobil bekas]," tambahnya.
 
Pada 2013, Buana menyalurkan dana pembiayaan konsumsi Rp800 miliar dan sewa guna usaha Rp2,2 triliun.   (ra)
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

buana finance tren pertumbuhan pembiayaan pembiayaan konsumen lgcc
Editor : Others

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top