BOJ Diperkirakan Tahan Suku Bunga

Bank Sentral Jepang (BOJ) diperkirakan mempertahankan kebijakan moneternya dalam pertemuan dewan gubernurnya pada Kamis (27/4/2017).
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 24 April 2017  |  17:16 WIB
BOJ Diperkirakan Tahan Suku Bunga
Bank of Japan - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA— Bank Sentral Jepang (BOJ) diperkirakan mempertahankan kebijakan moneternya dalam pertemuan dewan gubernurnya pada Kamis (27/4/2017).

Ekonom JPMorgan Hiroshi Ugai menyebutkan, BOJ melihat bahwa laju inflasi masih akan melaju di bawah target 2%, kendati sejumlah data ekonomi seperti ekspor dan impor menunjukkan perbaikan selama beberapa bulan terakhir.

“Kami memperkirkan BOJ masih akan mempertahankan target imbal hasil obligasi bertenor 10 tahunnya di kisaran 0% dan pembelian Exchange Traded Fund (ETF) sebesar 6 triliun yen per tahun,” ujar Ugai dalam keterangan resminya kepada Bisnis, Senin (24/4/2017).

Sementara itu, terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi riil, Ugai memprediksi BOJ akan merevisi naik menjadi 1,6% pada 2017. Revisi tersebut dilakukan berdasarkan data-data terbaru dari perekonomian domestik Jepang yang mendapat dukungan dari kenaikan ekspor dan aktivitas manufaktur.

Seperti diketahui, ekspor Jepang kembali naik pada Maret. Kenaikan tersebut menjadi laju tercepat selama lebih dari dua tahun terakhir.

Pemerintah Jepang mengumumkan, ekspor bulan lalu naik 12,0% secara year on year (yoy)Meningkatnya permintaan luar negeri pada produk suku cadang mobildan baja menjadi pendorong terkuat kenaikan ekspor tersebut.

Peningkatan ekspor bulan lalu tersebut, diimbangi pula oleh melonjaknya impor Jepang pada periode yang sama. Impor tercatat naik 15,8% secara yoy.  Kenaikan itu menjadi yang terbesar sejak Maret 2014, karena harga minyak yang lebih tinggi sehingga mendorong nilai impor energi. 

Neraca perdagangan secara keseluruhan mencatatkan surplus 614,7 miliar yen. Jumlah itu lebih tinggi dari prediksi para ekonom yang menyebutkan surplus perdagangan akan mencapai 575,8 miliar yen.

Terpisah, dalam keterangan resminya pekan lalu, Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda mengatakan pihaknya akan melanjutkan kebijakan pelonggaran moneternya. Kebijakan tersebut dilakukan mengingat kenaikan laju inflasi diproyeksikan masih di bawah target yang ditentukan pada tahun ini. 

“BOJ merasa perlu melanjutkan stimulus moneter dan akan terus memantau pertumbuhan indeks harga konsumen nasional. Mengingat belum ada tanda-tanda atau momentum inflasi akan kembali melonjak,” katanya.

Pelonggaran moneter yang dimaksud oleh BOJ tersebut antara lain, mempertahankan suku bunga acuannya pada level -0,1% yang berlaku atas kelebihan cadangan lembaga keuangan yang terparkir di bank sentral.

Selain itu, BOJ juga mulai meninggalkan wacana penetapan base money dan beralih untuk mengendalikan yield curve control. Kebijakan itu memberi ruang BOJ dalam membeli obligasi pemerintah jangka panjang  dan menjaga imbal hasil obligasi bertenor 10-tahun pada level 0%.

Secara umum, kebijakan tersebut dikenal sebagai pelonggaran moneter kuantitatif dan kualitatif dengan cara mengontrol kurva yield. Jepang dalam hal ini menirukan kebijakan Bank Sentral AS (The Fed pada 1940-an, di mana bank sentral menargetkan imbal hasil obligasi 10-tahun, pada tingkat sekitar 0%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi jepang, boj

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup