EDUKASI DUIT: Mengapa Sulit Memotivasi Diri Sendiri?

Setiap karyawan di perusahaan hampir semuanya seperti berjalan menuju black hole atau lubang hitam. Kenapa? Persoalan dalam hidup yang utama biasanya tak jauh-jauh dari ada dua hal, yaitu pesangon saat pensiun dan warisan. Keduanya ini menjadi pertanyaan besar.
Redaksi | 25 Mei 2017 13:14 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis/swi

Bisnis.com, JAKARTA — Setiap karyawan di perusahaan hampir semuanya seperti berjalan menuju ‘black hole’ atau lubang hitam. Kenapa? Persoalan dalam hidup yang utama biasanya tak jauh-jauh dari ada dua hal, yaitu pesangon saat pensiun dan warisan. Keduanya ini menjadi pertanyaan besar.

Apalagi sebagai karyawan, rata-rata perusahaan menganut reward system. Setelah bekerja dengan baik, baru nantinya kita memperoleh bonus. Lalu, setelah 20 tahun bekerja, kita bakal dapat apa? Inilah misteri abad ini. Bila Anda belum mengetahui jawabannya, selamnya Anda akan merasa gamang.

Hal yang paling sulit dipahami adalah melihat masa depan. Bagaimana kita bisa mengetahui hal-hal yang tidak pasti.

Oleh karena itu kita perlu berpikir, bagaimana caranya bisa mengatasi hal ini sehingga kita siap pada saat itu terjadi. Kalau level karyawan, biasanya masih berharap besar pada atasan.

Nah, Anda bisa membayangkan bila pertanyaan besar ini terpapar pada level direktur atau CEO satu perusahaan. Bagaimana bisa mengharapkan motivasi dari level dibawahnya?

Jadi jangan heran bila kita perhatikan banyak level direktur dan CEO yang sikapnya tertutup. Hal ini terjadi karena di level atas pun mengalami misteri lubang hitam seperti pembuka di atas tadi.

Itu semua semua disebut kondisi LTR alias low trust relationship. Dan, manajemen harus mengatasi solusi ini.

Hanya saja, tren manajemen sekarang ini lebih oppressive, lebih menekan. Bagaimana kita menyikapi fenomena manajemen oppressive ini?

1. Kita harus mengubah orientasi dari orientasi pada pribadi menjadi sedikit membuka orientasi kepada atasan. Istilahnya adalah OPI atau other people interest alias memahami kebutuhan atau kepentingan orang lain. Dengan mengerti dan memperjuangkan tujuan dan masalah atasan, maka membuat perjuangan berada dalam satu perahu. Tujuannya sama.

2. Caranya mengerti tujuan dan masalah atasan adalah dengan sacrifice, rela berkorban. Kita mulai dengan berkorban demi atasan. Ini menjadi pintu masuk kepada kepentingan yang lebih tinggi.

3. Mengikatkan diri secara long term atau jangka panjang. Beberapa owner perusahaan tidak memiliki visi yang lebih luas, kita buka horizon baru semangat baru kita ciptakan penaklukan baru setiap hari. Hobi pimpinan perusahaan itu adalah kemenangan. Ini disebut Cleopatra complex.

Dengan membangun relationship ikatan interaksi yang semakin erat maka kitapun bisa terangkat dari situasi manajemen yang oppressive.

 

Penulis:

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Penulis buku 'Money Intelligent' dan 'Kekuasaan itu Key Driving Force Uang'

Pertanyaan dapat dikirim melalui email : ptangsanadwitunggal@gmail.com

Tag : investasi, kiat manajemen, Edukasi Duit
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top