Kiat Investasi Properti yang Perlu Anda Ketahui

Menurut perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo, peluang investasi properti masih menarik, terutama di kota-kota besar. Hal itu sejalan dengan meningkatnya perekonomian, arus urbanisasi, dan bertambahnya penduduk. Apalagi properti menjadi kebutuhan pokok manusia.
Asteria Desi Kartika Sari | 07 April 2018 06:17 WIB
Properti di Jakarta - Reuters/Darren Whiteside

Investasi bidang properti banyak disukai karena selain nilainya cenderung meningkat dari waktu ke waktu, aset ini juga memiliki kelebihan sebagai jaminan jika suatu saat membutuhkan likuiditas.

Investasi properti dapat diartikan membeli aset seperti tanah, bangunan rumah dengan harapan meningkat nilainya di masa depan, atau dapat memberikan pemasukan rutin.

Sementara itu bagi developer, investasi properti dapat berarti membeli properti untuk dijual kembali dengan pengembangan atau memberikan nilai tambah di atas properti tersebut.

Menurut perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo, peluang investasi properti masih menarik, terutama di kota-kota besar. Hal itu sejalan dengan meningkatnya perekonomian, arus urbanisasi, dan bertambahnya penduduk. Apalagi properti menjadi kebutuhan pokok manusia.

“Bahkan, bagi para calon pensiunan, properti seringkali menjadi pilihan utama untuk  mendapatkan penghasilan rutin dengan memiliki beberapa rumah sewa atau kos-kosan setelah memasuki usia pensiun,” kata Budi.

Budi mengklaim peningkatan nilai properti ini akan semakin menarik, bahkan bisa lebih tinggi dibandingan dengan pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Dia menjelaskan terdapat dua keuntungan dalam berinvestasi properti, yakni capital gain atau kenaikan harga dan penghasilan sewa. Menurutnya, variasi kedua keuntungan tersebut dapat dihasilkan dari berbagai jenis propertinya, serta kejelian dari investor dalam melihat peluang.

Sementara itu dari sisi risiko, yang paling jelas adalah likuiditas karena properti tidak mudah dicairkan apabila investor membutuhkan dana cepat. Oleh karena itu, sering kali investor mau tidak mau harus menjual di bawah harga apabila membutuhkan dana cepat.

“Ini tentunya menciptakan risiko volatilitas. Guna meminimalisir risiko sebaiknya investor menggunakan properti sebagai agunan stand by di bank,” katanya.

Artinya, ketika investor membutuhkan dana, maka investor dapat melakukan pinjaman sesuai dengan plafon yang telah diberikan, di mana pinjaman tersebut dapat dikembalikan dengan cara mengangsur dengan tingkat bunga yang rendah, sehingga investor tidak perlu menjual properti tersebut.

Risiko lain adalah legalitas. Seringkali banyak properti yang bermasalah dengan legalitas sehingga investor harus berhati-hati dan jeli dalam melihat jenis dan status dari investasi properti yang ingin dibeli.

KIAT INVESTASI

Peluang untuk investasi properti memang besar, namun bukan berarti Anda bisa asal memilih properti untuk berinvestasi. Agar sukses dalam berinvestasi properti ada beberapa hal yang harus dipertimbangankan.

Pertama, melihat kesediaan dana, sehingga investor dapat memutuskan jenis properti apakah yang sesuai dengan kemampuan.

Kedua, menentukan tujuan berinvestasi properti, apakah untuk tempat tinggal, tempat usaha, sewa, dan sebagainya.

Ketiga adalah memilih lokasi yang tepat dengan mempertimbangkan berbagai hal mulai dari infrastruktur, area pengembangan sekitar di masa yang akan datang, serta jarak dari lokasi aktifitas sehari-hari apakah lokasi rawan banjir, sampai dengan bagaimana sumber airnya.

Keempat, memilih pendanaan, apakah akan berasal dari pendanaan pribadi penuh, utang bank, atau dengan pendanaan dari investor lain.

Kelima, sebaiknya memeriksa dengan baik status tanah dan legalitas tanah, terutama tanah warisan yang sudah cukup lama belum terbagi. “Seringkali tanah ini akhirnya sulit berpindah [tangan] karena problem dalam mencari siapa saja ahli waris yang sah dari tanah tersebut,” jelasnya.

Senada, perencana keuangan Aidil Akbar mengatakan untuk menjadikan properti sebagai instrumen investasi, investor juga harus berhati-hati memepertimbangkan karakteristik dari properti itu sendiri. Misalnya, apartemen dan rumah juga memiliki klasifikasi yang berbeda-beda dari yang murah hingga yang paling mahal atau mencapai Rp5 miliar.

“Beberapa kasus properti sangat menjanjikan, hanya saja harus hati-hati, properti yang mana yang dipilih, masing-masing memiliki pasar yang berbeda. Itu akan menentukan hasilnya,” ujarnya.

Aidil mencontohkan perumahan elite di Pondok Indah atau Permata Hijau memiliki harga yang tinggi. Harga tanah untuk lokasi tersebut katakanlah sekitar Rp40 juta—Rp60 juta per meter, sehingga paling tidak harga jual di atas Rp10 miliar.

Menurutnya, apabila membeli rumah dengan kisaran harga tersebut untuk tujuan investasi sangatlah berisiko. “Siapa yang mau beli dengan harga setinggi itu? Level Direksi BUMN saja tidak sampai. Biasanya pengusaha, atau pejabat  daerah yang bisa,” jelasnya.

Aidil menyarakan untuk tidak membeli rumah yang terlalu tinggi harganya apabila tujuannya untuk instrumen investasi. Apalagi, risiko tertinggi dari investasi tersebut adalah likuiditas.

“Kalau tujuannya untuk investasi harus mencari rumah yang laku dijual, misal yang harga Rp1 miliar—Rp 2 miliar. Tapi itu, kan, harga sekarang, kalau mau menjual tiga hingga 5 tahun lagi harga pasti naik. Jadi kalau bisa membeli rumah di bawah harga itu,” paparnya.

Selain itu, strategi kedua adalah dengan menggunakan refinancing, atau pendanaan ulang atas KPR. Skema ini adalah dengan pengajuan kredit atau utang untuk rumah yang masih dalam keadaan KPR pada bank.

Pada umumnya skema refinancing menawarkan bunga yang lebih rendah. “Tapi itu juga tergantung dari kreditnya bagus tidak, rasionya terhadap penghasilan masuk atau tidak,” katanya.

Tag : investasi
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top