EDUKASI DUIT: Meningkatkan Penetrasi Kredit ke Masyarakat

Seringkali, ketika baca-baca berita atau mendengar pernyataan tokoh politik, kita dibuat bingung. Pembangunan infrastruktur ada di mana-mana namun mengapa daya beli konsumen tampak menurun?
News Editor | 03 Mei 2018 15:35 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis/swi

Bisnis.com, JAKARTA — Seringkali, ketika baca-baca berita atau mendengar pernyataan tokoh politik, kita dibuat bingung. Pembangunan infrastruktur ada di mana-mana namun mengapa daya beli konsumen tampak menurun? 

Indonesia itu dalam pikiran saya ibarat berada di persimpangan jalan.  Masyarakat memilih salah satu di antara dua pilihan. 

Pilihan pertama adalah mencari lowongan kerja seperti biasa, bekerja atau berusaha jualan di pasar atau membuka toko eceran maupun kedai.  Disebut dunia tunai, cash

Dunia kedua adalah pengusaha, pedagang, dan pembeli properti. Mereka mengajukan kredit bank jangka panjang bunga ringan. Di antara mereka ada nasabah kakap, nasabah lumba-lumba dan nasabah paus. Rajanya mega kredit raksasa bank. 

Di dunia ini setiap menit uang baru atau new money dalam bentuk kredit komersial bank, dicetak sebanyak Rp2 miliar. Tik tok. Menit berikutnya diciptakan uang baru, new money Rp2 miliar. Setiap bulan ada kredit Rp50 triliun diberikan kepada konglomerat. Kredit raksasa bank disebar bergantian di antara top 10 konglomerat Indonesia. 

Jika masyarakat memilih pilihan kedua, kemungkinan ketimpangan pendapatan Indonesia akan bisa diatasi. 

Sayangnya bila 99% Masyarakat memilih pilihan pertama,  hidup ala kadarnya,  seperti biasa zaman dulu,  pasrah dan nerimo. Tidak ingin ribet dengan urusan bank.  Atau trauma dengan debt collector

Di dunia tunai, terjadi penyusutan nilai uang tunai sebesar Rp100 triliun per tahun. Gaji Anda atau penghasilan Anda Rp5 juta, tahun depan nilainya menyusut, menyusut 2 tahun berikutnya nilai uang Anda menjadi Rp4 juta tergerus inflasi. 

Jadi inflasi adalah pajak konsumen yang tersembunyi.  Pedagang toko atau grosir mungkin ribet dikejar PPN pajak pertambahan nilai, otomatis dimasukkan ke dalam harga jual yang mengakibatkan harga dan CPI (Consumer Price Index) indeks harga konsumen, segera naik.

Tanpa disadari secara bersama-sama kita pun menaikkan pajak inflasi konsumen.  Dalam 4 tahun pajak inflasi konsumen ini nilainya Rp400 triliun. Angka sebesar itu menguap dalam bentuk penyusutan nilai uang tunai. 

Oleh karena itu satu-satunya solusi bagi masyarakat Indonesia adalah meningkatkan penetrasi kredit bank.  

Pemerintah sedang menggalakkan student loans atau pinjaman uang kuliah. Dibayarkan setelah lulus sekolah.  Ada juga KUR Kredit Usaha Rakyat. 

Zaman now yang terbesar adalah bisnis kredit motor. Kredit transportasi pribadi. Ibarat dulu bantuan produksi, sekarang masyarakat terbuka peluang kredit konsumsi.  Ini yang kadang membuat saya merasa sedih. 

Zaman old ada inpres, SD inpres bantuan langsung pemerintah,  beras inpres, ada program intensifikasi sawah dalam bentuk pupuk, ada ekstensifikasi pertanian,  memperluas lahan petani.  Tapi itu dulu.

Ke depan pemerintah harus mengkampanyekan kredit bank untuk pengusaha. Ibarat dosis obat, dicoba dulu kredit kecil setara Rp500 juta—Rp1 miliar, katakan berupa kredit multi guna usaha kecil, cepat dan merata KMG. Bila segera, sebanyak Rp2 juta dalam 5 tahun, program new money untuk masyarakat ini akan menembus Rp1.000 triliun.  Ini bisa mengimbangi ketimpangan pendapatan Indonesia.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Motivator Uang.

Penulis buku seri "Money Intelligent" dan buku “New Money”

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Tag : kredit, Edukasi Duit
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top