James Susanto: WinWin Fokus ke Invoice Financing untuk Pengapalan Hasil Tambang

Persaingan bisnis peminjaman uang berbasis teknologi informasi atau fintech peer-to-peer lending di Tanah Air semakin ketat. Untuk menghadapi ketatnya persaingan, PT Progo Puncak Group (Pinjam WinWin) melakukan berbagai terobosan guna menarik minat pasar
Oktaviano Donald Baptista/Fitri Sartina Dewi | 08 Agustus 2018 14:16 WIB
James Susanto CEO dan Founder PT Progo Puncak Grup (Pinjaman WinWin). - Bisnis/Abdul Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Persaingan bisnis peminjaman uang berbasis teknologi informasi atau fintech peer-to-peer lending di Tanah Air semakin ketat. Untuk menghadapi ketatnya persaingan, PT Progo Puncak Group (Pinjam WinWin) melakukan berbagai terobosan guna menarik minat pasar. Untuk menggali lebih jauh tentang strategi pengembangan bisnis perusahaan, Bisnis berkesempatan mewawancarai CEO & Founder Pinjam WinWin James Susanto. Berikut petikannya:

Bagaimana ide awal pendirian Pinjam WinWin?

Pada awalnya, saya memunculkan ide ketika berbincang-bincang dengan istri soal akses financing di Indonesia bahwa masyarakat kecil yang hanya mengandalkan perbankan itu masih sangat kurang. Saya pertama kali coba menyasar ke para petani.

Kemudian, kami coba beberapa kali tes market, dan berhasil, Akhirnya, kami masuk ke cash loan. Ternyata, demand market sangat kuat. Kemudian, kami kembangkan IT, sampai akhirnya kami berkembang sampai saat ini menjadi fintech.

Kita mulai pertama kali beroperasi pada akhir 2015, tetapi mulai beroperasi secara penuh pada awal 2016. Persiapan untuk mendirikan perusahaan ini sendiri terbilang cukup cepat yaitu hanya 3 bulan sejak dari perencanaan, hingga mulai beroperasi.

Adakah kesulitan yang dialami ketika awal beroperasi?

Pada saat awal beroperasi tidak ada kesulitan, justru masih mudah. Kalau sekarang malah jauh lebih bersaing setelah fintech lending diatur OJK. Setiap bulan juga harus ada laporan keuangan yang disampaikan ke regulator. Akan tetapi, saya melihat kebijakan itu bagus, karena industrinya jadi lebih tertata.

Bagaimana Anda melihat persaingan di industri peer-to-peer (P2P) lending saat ini?

Sebelumnya, persaingan di industri ini memang tidak terlalu ketat, karena baru ada beberapa provider saja. Seiring dengan berjalannya waktu, persaingannya semakin ketat. Akhirnya, kami mencari peluang usaha lain, seperti yang kami jalankan saat ini yaitu bisnis invoice financing di sektor pertambangan.

Misalnya, kami adakan akses pendanaan untuk perusahaan di sektor pertambangan seperti perusahaan pengapalan batu bara ke pabrik besar. Jadi, tagihannya kami lakukan ke pabrik tersebut. Saat ini, di seluruh Indonesia, saya rasa baru kami yang menjalankan bisnis invoice untuk pengapalan hasil pertambangan.

Mengapa perusahaan lebih fokus pendanaan untuk perusahaan pertambangan?

Sebelum terjun ke bisnis fintech, saya sempat berkarier di sektor pertambangan, dan pernah di bisnis perkapalan juga sehingga sudah memahami betul soal dokumen yang dibutuhkan dan tingkat keamananannya.

Perusahaan kami memang tidak seperti perusahaan P2P lending lainnya yang lebih fokus menyasar UKM dengan rata-rata pendanaan ratusan juta.

Pembiayaan kami masing-masing bisa sampai Rp2 miliar, karena pendanaan untuk 1 kapal saja bisa sampai Rp10 miliar. Akan tetapi, pendanaan yang disalurkan tetap sesuai dengan ketentuan OJK, yaitu maksimum Rp2 miliar.

Apakah produk invoice financing memberikan dampak signifikan terhadap penyaluran pinjaman?

Penyaluran pinjamannya mulai naik drastis, dan omzetnya juga meningkat jauh, karena 1 kontrak pengapalan batu bara juga besar. Akan tetapi, kepercayaan pemberi pinjaman kepada kami cukup kuat, karena saya sudah punya customer base, dan punya pengalaman di bidang tersebut.

Selain produk invoice financing, adakah lini produk lainnya?

Pertama, produk kami adalah cash loan, yaitu dana cepat yang bisa cair kurang dari 4 jam. Untuk pelanggan yang sudah pernah mengajukan pinjaman dan ingin mendapatkan pinjaman lagi pencairannya bisa lebih cepat, yaitu hanya kurang dari 1 jam.

Kedua, adalah produk invoice financing. Selain kedua produk tersebut, rencananya pada akhir tahun ini kami akan tawarkan produk syariah. Produk pinjaman syariah itu akan menyasar UKM dan masyarakat kecil yang di daerah.

Kami benar-benar akan memberlakukan prinsip syariah dengan bunga yang lebih kecil dari bank, tetapi menawarkan return kepada investor yang lebih baik dari deposito perbankan.

Sejauh ini berapa banyak lender dan borrower yang telah memanfaatkan layanan Pinjam WinWin?

Jumlah lender masih sedikit karena kami memberikan pinjaman dalam jumlah besar. Kalau perusahaan fintech lain, jumlah lender-nya mungkin bisa sampai puluhan ribu, tetapi masing-masing pinjamannya ada yang Rp1 juta sampai Rp10 juta.

Di perusahaan kami memang jauh lebih banyak jumlah borrower-nya yaitu mencapai belasan ribu pengguna, sedangkan jumlah lender ada sekitar 15 orang yang sebagian besar masih berasal dari Surabaya.

Apa nilai lebih yang ditawarkan kepada para pengguna?

Kalau kepada lender yang jelas kami tawarkan high return, dan kami benar-benar mengutamakan keamanan. Kami sangat hati-hati juga saat menerima dana dari lender. Sempat ada lender yang menawarkan dana dalam jumlah yang besar sekali.

Itu harus hati-hati betul, jangan sampai sumber dananya itu tidak jelas. Dari sisi borrower, kami terus kembangkan produk.

Untuk proses pengajuan pinjaman juga cenderung cepat, biasanya hanya butuh sekitar 1 jam sejak awal diajukan sampai tersalurkan pinjamannya, tetapi untuk yang existing borrower prosesnya bisa lebih cepat, kurang dari 1 jam.

Berapa target penyaluran pinjaman pada tahun ini?

Sekarang rata-rata per bulan kita menyalurkan pinjaman sekitar Rp20 miliar. Targetnya tahun ini sebenarnya bisa menyalurkan pinjaman mendekati Rp1 triliun. Namun, kelihatannya realisasinya akan sedikit di bawah itu, karena kami sedang melakukan peningkatan sistem internal, melakukan penambahan staf, dan melakukan penyesuaian peraturan-peraturan yang dikeluarkan OJK.

Akan tetapi, target itu jauh meningkat dibandingkan dengan target tahun lalu dengan penyaluran pinjaman Rp40 miliar. Target kenaikannya cukup besar karena kami kan mulai menjalankan produk invoice financing, dan akan meluncurkan produk syariah.

Apakah perusahaan berencana menggandeng institusi keuangan?

Sementara ini masih belum, tetapi sebenarnya kami sudah membuka peluang dan berkomunikasi dengan investor luar negeri. Setelah berkomunikasi, ternyata para investor tersebut banyak yang ingin memiliki saham, dan ingin masuk ke dalam manajemen perusahaan.

Namun, kami masih belum siap untuk hal tersebut, karena prosesnya panjang harus izin OJK dulu. Kalau mereka hanya menjadi lender kami oke saja.

Berapa rasio NPL sejauh ini?

NPL kami masih cukup rendah, mirip-mirip perbankan umum yaitu sekitar 2%.

Bagaimana strategi mencegah terjadinya fraud atau gagal bayar?

Kalau ada kredit macet, seperti biasa kami memakai penagihan atau field collection. Sebenarnya, sebelum masuk ke tahap itu, ada satu tahap tambahan lagi yang berbeda dengan bank.

Kalau sudah sampai field collection biasanya ada berbagai penyebab, misalnya ada keluarga yang mengalami musibah, atau persoalan lainnya yang butuh pendekatan khusus. Sebagian besar nasabah kami cukup baik, kami punya KYC yang cukup bagus.

Banyak perusahaan fintech asing yang mau masuk, apakah sebaiknya dibatasi atau dibiarkan saja?

Memang ada beberapa fintech dari China yang berbondong-bondong masuk ke Indonesia. Mereka mau masuk karena di sana peraturannya semakin ketat. Mereka makin sulit , sehingga banyak yang mencari pasar baru, termasuk di Indonesia.

Di China, literasi keuangannya sudah tinggi, sehingga orang yang mau jadi lender itu besar sekali, dibandingkan dengan jumlah borrower-nya. Dengan demikian, mereka perlu mencari pasar baru, karena uangnya sudah siap.

Menurut saya, tidak apa-apa kerannya dibuka , karena otomatis industrinya jadi lebih dewasa, dan kalau industrinya dewasa yang diuntungkan adalah masyarakat.

Yang penting, pembatasan-pembatasan baku seperti yang ada di POJK sekarang harus dipatuhi. Jadi, penyelenggara tidak bisa bermain-main dengan dana masyarakat.

Bagaimana Anda melihat kesiapan perusahaan fintech lokal?

Saya lihat market-nya begitu besar, dan punya fokusnya masing-masing. Misalnya, ada yang fokus ke sektor pertanian, atau ekonomi kreatif. Selain itu, pebisnis lokal tentunya juga lebih menguasai kondisi pasar di dalam negeri.

Apakah fenomena serbuan fintech asing dianggap sebagai tantangan atau peluang?

Awalnya, saya kira masuknya perusahaan fintech asing itu akan menjadi saingan, tetapi malah bisa bekerja sama. Adanya Aftech ini bagus, seperti yang terjadi di China para pemain justru kompak.

Misalnya, ada borrower yang bermasalah, pemain justru akan saling memberikan informasi terkait dengan borrower yang bermasalah tersebut.

Apa harapan Anda terhadap regulator dalam mendorong perkembangan fintech?

Sekarang OJK sudah cukup bagus, tetapi dalam menindak perusahaan fintech ilegal seharusnya bisa lebih cepat. Beberapa bulan terakhir, OJK seperti minta yang belum mendaftar untuk segera mendaftar. Padahal, aturannya sudah sejak 2016, tetapi masih ada 227 perusahaan fintech ilegal dan sebagian besarnya berasal dari China.

 *) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (8/8/2018)

Tag : fintech
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top