Riset Moody's : Perubahan Tren Populasi Tantangan Baru Perbankan

Analisis Moody's Investors Service terbaru menunjukkan perubahan demografi populasi di Asia-Pasifik akan menjadi potensi perkembangan sistem industri perbankan bagi sebagian pelaku industri dan tantangan bagi sebagian lainnya.
Nirmala Aninda | 18 September 2018 12:20 WIB
Moody Investors Service - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Analisis Moody's Investors Service terbaru menunjukkan perubahan demografi populasi di Asia-Pasifik akan menjadi potensi perkembangan sistem industri perbankan bagi sebagian pelaku industri dan tantangan bagi sebagian lainnya.

"Selama satu dekade ke depan, dari 17 sistem perbankan eksisting di Asia Pasifik, bank-bank di Jepang, Hongkong dan khususnya Taiwan, akan menghadapi tantangan dari dampak penyusutan populasi usia produktif dan penurunan proporsi pekerja," ujar Senior Vice President Moody's Christine Kuo, melalui siaran pers, Selasa (18/9/2018).

Di sisi lain, Kuo menyebutkan industri perbankan di India, Indonesia dan Filipina akan merasakan momentum pertumbuhan pesat populasi usia produktif dan peningkatan proporsi pekerja.

Menurut Moody's perubahan tren demografi populasi ini akan menguntungkan pelaku industri perbankan asalkan disertai dengan pertunbuhan dari segi profit dan kemajuan infrastruktur teknologi.

Moody's mengidentifikasi India, Indonesia, dan Filipina sebagai industri perbankan di mana tingkat pendapatan masyarakatnya tengah berkembang dengan latar belakang tren demografi yang juga menguntungkan.

Moody's juga mengatakan bahwa kemajuan teknologi di Indonesia dan Filipina akan membantu bank-bank pada kedua negara ini untuk memperoleh lebih banyak pelanggan.

Analisis Moody yang ditulis oleh Kuo dimuat dalam laporan yang baru saja dirilis berjudul "Bank - Asia Pasifik: Perubahan demografis akan membawa tantangan dan peluang baru dalam dekade berikutnya."

Laporan tersebut mencakup 17 sistem perbankan di Asia Pasifik yaitu Australia, Bangladesh, China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Mongolia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Hasil analisis tersebut menyebutkan bahwa bank-bank di beberapa negara Asia tengah menghadapi penyusutan jumlah nasabah.

Secara khusus, populasi usia produktif yang terdiri dari orang-orang berusia 25 - 64 tahun mengalami penyusutan di sejumlah negara Asia, bagi bank, situasi ini berarti basis pelanggan inti mereka akan berkurang.

Antara 2017 hingga 2030, populasi usia produktif akan turun sebesar 3% - 10% di negara seperti China, Jepang, Hong Kong, Korea, Taiwan, dan Thailand.

Target market inti yang menyusut akan merugikan laba bank dan kinerja kredit karena bank mencoba untuk mengimbangi efek dari menyusutnya potensi calon nasabah melalui persaingan harga dengan menawarkan suku bunga atau biaya yang lebih menarik untuk menarik pelanggan baru dari pesaing mereka.

Selain itu, pasar dengan proporsi masyarakat pensiunan yang meningkat akan menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Situasi tersebut terbukti akan merugikan keuntungan bank.

Sementara itu bank yang berada di bawah tekanan profitabilitas akan mulai berfokus pada manajemen biaya, yang mempengaruhi operasi cabang dan jumlah staf.

Selain penyusutan target market calon nasabah, potensi untuk menyentuh masyarakat yang belum bankable akan menjadi tantangan bagi industri perbankan di samping memperkuat hubungan dengan nasabah eksisting.

Untuk mencapai keduanya akan menjadi tantangan bagi industri perbankan di beberapa negara dengan potensi penyusutan pada target market nasabah, serta tingkat penetrasi dan leverage yang tinggi.

Tag : moody\'s investors service
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top